Terbang ke Australia, Jokowi Minta Pesawatnya Mampir di Kalsel demi HPN
2 menit baca669 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, BANJARBARU - Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 dipusatkan di Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Lokasi yang dipilih adalah halaman kantor Sekretariat Provinsi Kalsel pada Sabtu (8/2/2020).
Presiden RI Joko Widodo disertai beberapa Menteri Kabinet Indonesia Maju, Stafsus Presiden dan Ketua DPR RI Puan Maharani turut menghadiri perayaan HPN.
Perayaan HPN kali ini mengusung tema Pers Menggelorakan Kalsel Sebagai Gerbang Ibu Kota.
Ketua PWI Pusat, Atal Depari menyebutkan, momen ini juga sebagai forum untuk membahas tantangan aktual media massa. Terutama di tengah iklim disrupsi, minimnya regulasi pada media sosial yang membawa gelombang epidemi hoaks baik di tingkat global, nasional, hingga lokal.
"Yang sangat penting adalah dukungan nyata dan tegas berupa hadirnya negara untuk mewujudkan berbagai regulasi. Bukan hanya menjamin terjadinya persaingan bisnis media yang sehat, seimbang, dan setara. Melainkan juga pada saatnya mampu memberantas gelombang epidemi hoaks di media sosial," kata Atal dalam sambutannya.
Demi menghadiri peringatan HPN 2020 ini, Presiden Jokowi yang dalam penerbangan menuju Australia, menginstruksikan untuk singgah ke Kalsel.
Dia mengaku kapok pernah satu kali tak hadir pada perayaan HPN karena beberapa alasan.
"Mengapa saya harus hadir? Karena insan pers adalah teman saya sehari-hari karena kemanapun saya pergi, yang selalu ikut sama saya adalah para wartawan. Menteri kadang enggak ikut, tapi wartawan pasti ikut," ucapnya.
"Yang menghadang saya setiap hari, yang doorstop membuat saya gugup dan gagap karena enggak siap ditanya sesuatu juga insan pers," imbuhnya lagi.
Dia mengucapkan terimakasih kepada insan pers yang konsisten mewartakan kerja-kerja pemerintah, memberikan dukungan termasuk memberikan masukan juga kritik.
Presiden mengapresiasi peran pers sebagai pilar demokrasi ke empat sejak mengawal Pilpres 2019 hingga menghadapi situasi rumit terkini seperti ancaman virus Corona.
"Negara sangat membutuhkan peran pers, berdiri di depan melawan disinformasi memerangi hoaks, ujaran kebencian, semburan fitnah yang juga mengancam kehidupan demokrasi kita," tuturnya.
Dia juga menyinggung soal keberlanjutan ekosistem dunia pers Indonesia. Terutama soal aturan dan regulasi untuk terus melanjutkan eksistensi pers. Jokowi meminta untuk disiapkan regulasi yang dapat melindungi dunia pers di Indonesia. Dengan tujuan menghilangkan monopoli yang dilakukan platform digital dari luar.
"Padahal aturan pers kita ini diatur sangat rigid, dia (Medsos) tidak pakai aturan, dia ngambil iklan sehingga ada capital outflow yang sering tidak terhitung dan perlu diatur," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi










