Rumah sakit pelat merah itu juga sedang mempersiapkan pelayanan radioterapi, pelayanan untuk kasus penyakit keganasan atau kanker. Baik dengan operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Kesiapan SDM-nya pun sudah terbilang komplet, seperti ketersediaan dokter bedah onkologi dan sudah menyekolahkan dokter untuk hemato-onkologi.
Diharapkan ke depannya, RSUD AM Parikesit menjadi Cancer Center dengan mengobati kanker secara utuh.
Menurut Martina, ada urgensi untuk membuka pelayanan radioterapi di Kukar. Saat ini, baru ada satu alat yang ada se-Kaltim yakni di Rumah Sakit AW Sjahranie.
Itu menyebabkan antrean panjang pasien menunggu jadwal radioterapi.
"Orang dengan CA (kanker) untuk menunggu jadwal radio terapi itu, bisa menunggu hingga 2-3 bulan. Sehingga urgen untuk diadakan di Kukar," ucapnya.
Biaya pembangunannya dengan sistem kolaborasi Kemenkes RI, Pemda dan RSUD AM Parikesit sendiri. Kemenkes akan menyediakan alat Linear Accelerator (LINAC), CT Scan diadakan lewat APBD, dan RSUD AM Parikesit akan bangunkan bunker nuklirnya.
Proses pembangunannya cukup panjang, mengingat izin untuk mendirikan bunker-nya dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), tidak main-main. Sesuai Permenkes 3/2020, radioterapi ini termasuk pelayanan khusus dan izinnya dari Kemenkes RI.
Prevelansi kanker di Kaltim pada 2018 lalu yakni 1,4 persen dari jumlah penduduk. Jika proyeksi penduduk Kaltim 349.578.000, maka yang berpotensi terkena kanker sendiri sebanyak 48 ribu.
"Jika Tenggarong membuka (radioterapi) tentu segmennya tidak hanya Kukar, ada dari Mahulu ada dari Kubar, karena kita rujukan regional," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi