Bisa disebut, pementasan ini merupakan manifestasi demonstrasi para mahasiswa kesenian itu.
"Lebih tepatnya, hak mereka sebagai mahasiswa yang harusnya dapat merasakan atmosfer kampus yang sehat, adanya interaksi antara adik dan kakak tingkat, dosen yang lengkap serta kejelasan status mereka kedepannya itu yang utama," ujar penanggung jawab produksi, Ari Ersandi.
Berangkat dari kekecewaan mahasiswa ISBI yang jauh-jauh datang ke Tenggarong hanya untuk memperdalam kesenian lokal, Sutradara Yam Fay mencoba menggalinya untuk dapat dipentaskan dalam teater malam itu.
"Saya menggali bagaimana perasaan mereka yang jauh tapi setelah tujuan mereka kesini mau sekolah, bener gitu, tapi dihadapkan dengan masalah yang ada," ucapnya.
Pada pementasan kedua yang disutradarai Annisya Amelia Rukhmana, pelakonnya melibatkan siswa SMAN 2 Tenggarong dan SMP 2 Tenggarong yang ditonton langsung orangtuanya.
Annisya mencoba memperluas sudut pandang penonton. Layaknya problematika orangtua yang tidak setuju anaknya sekolah kesenian lantaran masa depan yang tidak pasti, hingga para orangtua siswa disuguhi sudut pandang sang anak agar bisa memahami seberapa besar cintanya terhadap kesenian.
Selain itu, lanjut Annisya, pementasan ini juga bentuk keprihatinan pegiat seni. Bahwa satu-satunya kampus lokal yang diharapkan dapat memperluas keilmuan seni lokal terancam keberadaannya.
"Karena mereka SMA dan penggiat seni, kemudian akan ada kemungkinan mereka akan sekolah disana, terus mengapa kampus yang bisa mewadahi mereka itu terancam seperti isu-isu yang santer belakangan ini," pungkasnya.
Penulis : Reza Fahlevi
Editor : Hendra