“Kita akan buat semacam tempayan, di mana didalam tempat air itu menjadi air pelas benua yang akan dilakukan kesultanan, artinya air itu air yang dilakukan ritual pembacaan Quran dan kembali ke ajaran Allah,” kata Sekretaris Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Awang Yacoub Luthman kepada Korankaltim.com, baru-baru ini.
Pelaksanaan Erau pun ke depannya secara berangsur menuju kemandirian, dengan mengurangi dana yang diterima Pemkab Kukar.
Sultan Aji Muhammad Arifin, menginstruksikan dan bertitah untuk tidak lagi ‘tangan di bawah’. Lepasnya Erau dan Festival Rakyat Internasional disepakati lantaran Kesultanan ingin menunjukan bahwa kearifan lokal akan dikedepankan dalam pergelaran ini.
“Saya mengundang masyarakat datang ke Erau dan kita akan lihat tarian kolosal yang simpel dari masyarakat kedang Ipil, yang kecil tapi saya yakin ini akan memberikan dampak besar,” ujarnya.
Prosesi belimbur hanya menggunakan air tuli, air kesucian yang diambil di Kutai Kutai Lama yang diketemukan dengan air pelas benua yang dibacakan ayat Quran. Filosofinya, orang yang disiram dengan air itu menjadi bersih lahir-batinnya. Air tersebut tidak diperbolehkan dicampur air kotor, dan tindakan yang tidak senonoh dalam penyiramannya seperti yang sering kali terjadi.
Area belimbur akan dibatasi, yang melanggar akan dikenakan denda adat hingga pidana.
“Yang melanggar kegiatan belimbur bukan pada area dan airnya, maka didenda oleh adat sebanyak satu ekor kambing, kalau proses yang tidak mengenakan terjadi maka ini sampai ke tindak pidana,” ujarnya.
Pihaknya, lanjut Awang, telah menyurati Polres Kukar, Kodim 0906/Tgr dan Satpol PP untuk mendukung peraturan tersebut.
“Kita yang jelas sudah buat proses perizinan dan prosedurnya bagaimana kita mengatur itu,” demikian Awang.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi