Revo mengatakan, pelatihan ini merupakan buah kerjasama AJI Indonesia, Google Asia Pasifik, Internews, Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo), dan Asosiasi Media Siber Indonesia yang sasarannya utamanya mayoritas jurnalis di berbagai kota.
“Kalau jurnalis ini pelatihannya kita laksanakan dua hari penuh, untuk umum dan mahasiswa kita laksanakan halfday (setengah hari),” terang Revo kepada Korankaltim.com.
“Pelatihan ini ditekankan bagaimana kita melakukan verifikasi sebuah konten, foto, informasi, video, supaya foto ini (diketahui) benar atau enggak, lokasinya dari mana, siapa yang pertama mengunggah, sehingga kita bisa tau foto ini asli atau palsu,” imbuhnya.
Sejumlah jurnalis tersebut diasah kemampuannya menggunakan tools yang tersedia di internet. Pelatihan ini menekankan agar para jurnalis, sebagai garda depan penyampai informasi, bisa dipastikan kebenaran informasi maupun konten foto ataupun video yang didapat merupakan fakta.
Harapannya dengan adanya kegiatan ini
“Sehingga ketika informasi itu diteruskan ke publik, sudah tervalidasi dengan baik. Jadi kita (jurnalis) tidak termakan oleh hoax lah, ketika disebarkan infonya juga bukan hoax,” ucap Revo lagi.
AJI Indonesia, lanjut Revo, punya tanggung jawab menjaga kebebasan pers, berekspresi, berserikat, meningkatkan profesionalisme dan kesejahterahaan jurnalis.
Pelatihan ini, lanjutnya, berbanding lurus dengan tanggung jawab itu.
“Jika pun pada akhirnya ada jurnalis yang tertarik untuk bergabung dengan Aji, ya silahkan. Tapi pada prinsipnya, Aji berusaha untuk meningkatkan profesionalisme jurnalis terutama anggota Aji dan umumnya jurnalis,” pungkasnya. (*)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor; Aspian Nur