Berjualan dengan aman tanpa gangguan ini justru jadi 'ganjalan' bagi Sumarna, pedagang asal Garut, Jabar ini.
Ini yang diungkapkannya ketika berbincang dengan wartawan media ini. “Aku heran, kok disini aman, jauh beda dengan daerah asalku,” cetusnya.
Bukan tanpa alasan Sumarna menyoroti kenyamanan berjualan di Kota Raja, Tenggarong. “Kalau disana (Garut) gangguannya banyak, belum apa-apa udah ada yang minta (memeras), kalau disini, Alhamdulilah belum pernah diperas makanya aku lebih nyaman dagang di sini,” imbuhnya.
Sumarna sendiri berpendapat warga Kukar biasa saja. Tak bisa disebut kasar, tetapi tak sepenuhnya ramah.
Hal yang sedikit membuatnya jengkel hanya anak-anak dengan tangan kotor kadang memegang bendera dagangannya. Soal keuntungan, tidak jauh berbeda dengan di kampung halamannya.
”Ongkos hidupnya agak mahal disini, kalau dari segi keuntungan tergantung pembeli aja lagi, tapi kalau yang rasakan, adem dan aman berjualan di sini,” ujarnya.
Sumarna juga mengaku pernah berurusan dengan Satpol PP saat pertama kali berdagang pada tahun 2005 lalu.
Namun, hal tersebut tidak lagi menakutinya selama lokasi dagang terjaga estetikanya.
Justru, ada satu hal yang membuatnya trauma. Bukan dipalak preman. Bukan juga digaruk Satpol. Apa itu? Ketiban dahan pohon di kawasan itu.
“Di sini dulu, lagi asyik nunggu dagangan, saya sempat kejatuhan dahan pohon. Wajah saya sampai bengkak beberapa hari. Karena itu saya masih trauma, kadang was-was kalau angin lagi deras,” pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi