“Jadi memang benar kampung tertua Bensamar sudah 401 tahun,” tegasnya.
Semaun mengisahkan, zaman dulu masih banyak ritual-ritual yang dikerjakan oleh para tetua. Seperti praktik hal berbau klenik.
Salah satunya, beber Semaun, ada ritual belian. Belian sendiri merupakan salah satu metode pengobatan alternatif yang biasanya dilakukan oleh suku Dayak. Ritual tersebut digambarkan beberapa pria menari mengelilingi patung awir sembari bergumam mengucapkan mantra-mantra seiringi bunyi gong bertujuan untuk pengusiran roh-roh jahat di suatu kampung yang dilakukan pada malam hari.
Namun, seiring perkembangan masa, ritual tersebut hilang ditelan zaman dan hanya menyisakan berbagai kesenian dan budaya di kampung Bensamar. Hari-hari ini, tidak ada lagi yang tahu pasti mengenai ritual tersebut. Ada segelintir orang yang mengetahui informasi detilnya. Tapi, tak lagi mempraktikkan.
Informasi yang diterima media ini, ritual ini sudah ditinggalkan karena warga takut akan dampaknya. Ini mengingat ritual tersebut berhubungan erat dengan kedatangan mahluk-mahluk gaib.
“Itu cuma dulu aja, belian itu kan kalau dia membuntuti anak-anak, itu yang dikhawatirkan, ada hubungannya dengan orang gaib ritualnya itu, tapi saat ini sudah tidak ada lagi yang tahu mantra-mantranya disini,” ujar Semaun.
Seiring dengan semangat warga setempat yang ingin memajukan desanya sebagai desa wisata, warga asli setempat mencoba mengingat beberapa kearifan khas Suku Kutai mulai dari kuliner hingga seni budaya. Semuanya ditujukan untuk meningkatkan ekonomi warga setempat sekaligus mempertahankan eksistensi kampung tertua itu.
“Kalau seni budaya seperti tari jepen dan sebagainya itu masih ada. Tari Gantar pemuda Dayak itu juga masih ada, dan permainan tradisional gasing belogoh masih ada, itu upaya kami mempertahankan keberadaan desa ini,” pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi