
Pada prosesi Melasti ini umat Hindu Kukar bersama umat Hindu Samarinda bersama-sama melakukannya di Tepian Sungai Mahakam Samarinda pada (03/03/2019).
Kemudian sehari sebelum Nyepi, diadakan Tawur Agung yang dirangkai dengan Pecaruan dan kemudian diikuti prosesi Pengrupukan atau mengarak Ogoh-ogoh yang kemudian dibakar.
Ketua PHDI Kukar Nyoman Surada menjelaskan saat upacara Pecaruan, diundanglah semua bhuta kala dari sembilan penjuru arah mata angin. “Rangkaian upacara inilah yang disebut Tawur Agung Kesanga. Caru yang disajikan berupa makanan enak untuk bhuta kala. Sehingga, nanti pada saat umat melaksanakan brata penyepian di hari Nyepi, bhuta kala ini dapat dikendalikan dan pada tahun yang baru kita tidak lagi dipengaruhi sifat buruk,” jelasnya kepada KORANKALTIM.COM.

Sifat-sifat buruk dilebur dan dikendalikan agar tidak muncul lagi di tahun berikutnya. Sifat-sifat buruk itu diwujudkan sebagai ogoh-ogoh yaitu sosok boneka yang digambarkan sesuai dengan sifat negatif manusia. “Sifat pemarah digambarkan dengan mata ogoh-ogoh yang melotot, gigi bertaring dan bentuk wajah menyeramkan. Pada Pengrupukan, ogoh-ogoh diarak. Rencananya jam setengah delapan malam ini kita sudah mulai pawai ogoh-ogoh, kalau tenaga masih memungkinkan maka kita pawainya sampai pada kawasan Kota Tenggarong, sebanyak 80-100 orangan yang akan turut serta nanti malam,” demikian Nyoman.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Muh.Huldi