Kali ini korbannya adalah bocah bernama Ferdiansyah (10) warga Jln Matlimak RT 18, Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong pada Kamis (28/2/2019) sore.
Awalnya, Fardiansyah yang akrab disapa Aldy itu, diketahui sempat mengunjungi rumah tantenya sekitar pukul 14.30 WITA. Dia kemudian mandi bersama teman-temannya di sungai.
“Pukul lima sore, saya suruh dia pulang, saya marahi. Kita takutnya ada buaya karena rame-rame ya penampakan buaya di sini, setelah naik dari sungai kemudian mandi di tempat kerabat saya terus pulang, ternyata singgah lagi ke rumah sepupunya sebentar, setelah itu Aldi hilang,” kata Ibu Aldy, Diana kepada Korankaltim.com, Jumat (1/3/2019).
Ayahnya yang baru saja pulang mempertanyakan keberadaan Aldy. Dijawab oleh Diana kalau dia pergi salat ke masjid menghindari kemarahan ayahnya.
Melihat Diana sibuk mondar-mandir mencari Aldy, warga pun berkumpul dan mempertanyakan hal tersebut. Hingga usai magrib, anaknya tak kunjung muncul. Diana meyakini Aldy disembunyikan hantu Belau.
Wargapun berinisiatif mencari di sepanjang jalur jalan dan hutan di belakang perkampungan sambil memukul tampi menggunakan sapu lidi dan perkakas dapur lainnya.
Diana sampai minta bantuan ke beberapa ‘orang pintar’ di Loa Tebu, ritual-ritual seperti besawai dan menghambur beras kuning pun dilakukan beberapa orang pintar itu.
Hingga akhirnya Aldy pun ditemukan oleh teman sebayanya sekitar pukul 23.00 WITA sedang tidur tengkurap di areal garasi warga yang jauhnya sekitar 100 meter dari rumahnya dengan pakaian basah berkeringat dan kotor.
Sebelumnya, pada akhir Januari lalu, seorang bocah diketahui bernama Fahriansyah (6) anak dari warga Tenggarong bernama Deni (33) juga menghilang selama dua jam pada Selasa (22/1/2019) sekitar pukul 10.00 WITA.
Pihak keluarga dibantu warga mencari ke sekolah, masjid bahkan sampai ke parit lingkungan rumahnya. Ibu Fahri, Ema (31) hanya bisa menangis kehilangan anaknya. Ternyata, Fahri ada di kolong meja kerja ayahnya dengan kondisi badan yang dingin dan lemas.
Hilangnya bocah ini juga dihubungkan dengan mahluk halus yang sering menyembunyikan anak kecil. Di Kalimantan, sosok gaib yang melegenda itu disebut Hantu Belau.
“Sosok makhluk ini dalam keyakinan masyarakat, berperawakan kerdil dan liar. Dia tinggal di pedalaman hutan,” tukas Jamakiyah (64), salah satu warga Tenggarong.
Menurut orang tua ini, sudah beberapa kasus anak hilang yang kerap dihubungkan dengan hantu Belau. Kejadian tidak selalu terjadi di hutan, melainkan juga di kawasan perkotaan. Belau sendiri dipercaya mampu menyembunyikan korbannya dengan dibawa ke alam tak kasat mata atau alam gaib dengan menyesatkannya di dalam hutan atau menyamar sebagai orang terdekat.
“Secara tak sadar, korbannya diajak beraktivitas layaknya kehidupan di alam kasat mata sehingga korbannya tidak tahu kalau sedang disembunyikan,” beber Nenek Jamakiyah.
Fahri sendiri akhirnya ditemukan lemas di bawah kolong meja ayahnya. “Padahal saya cukup lama duduk di meja kerja saya dan saya selonjoran, sama sekali tidak ada. Tidak tahu, tiba-tiba anak itu sudah ada di kolong meja saya,” kata Deni.
Ketika ditanya, si bocah yang sudah lemas itu mengaku bermain batu dengan seorang temannya. Padahal, di bawah meja itu tidak ditemukan satu pun batu.
penulis: Reza Fahlevi
Editor : Muh. Huldi