Keluhan tersebut menyebutkan pasien telah datang sejak sekitar pukul 04.00 WITA untuk mendaftar, namun belum mendapatkan pelayanan.
Menanggapi hal itu Direktur RSUD HIS dr I Nyoman Sumahardika menjelaskan, mereka tidak pernah menginstruksikan pasien untuk datang lebih awal dari jadwal pelayanan yang telah ditetapkan.
Jam pendaftaran dan pelayanan di RSUD HIS secara resmi dimulai pukul 07.30 WITA. Antrean sejak dini hari yang sempat terjadi bukan merupakan kebijakan rumah sakit, melainkan akibat miskomunikasi di lapangan.
Menurut Nyoman, persoalan bermula ketika sistem antrean elektronik mengalami gangguan. Dalam kondisi tersebut, petugas mengambil langkah sementara dengan menyiapkan nomor antrean secara manual agar pelayanan tetap berjalan lancar.
“Petugas berinisiatif datang lebih pagi sekitar jam lima untuk mempersiapkan nomor antrean manual. Tapi itu bukan berarti pelayanan sudah dimulai. Pelayanan tetap sesuai ketentuan,” jelasnya kepada Korankaltim.com, Selasa (27/1/2026).
Informasi mengenai persiapan petugas tersebut kemudian berkembang di masyarakat dan ditafsirkan keliru sebagai jam buka pelayanan. Akibatnya, sejumlah pasien datang jauh lebih awal dari jadwal resmi, bahkan sejak pukul 04.00 WITA sehingga tidak menemukan petugas pelayanan di lokasi. “Di situlah miskomunikasinya. Kalau datang jam empat tentu belum ada pelayanan,” tegas Nyoman.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, manajemen RSUD HIS akan memperkuat sosialisasi jadwal pelayanan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kebingungan. Di sisi lain, rumah sakit juga terus melakukan pembenahan internal, termasuk peningkatan sistem antrean dan penambahan sumber daya manusia tenaga medis.
Saat ini, RSUD HIS memastikan tidak ada pembatasan jumlah pasien selama jam pelayanan berlangsung. Seluruh pasien yang datang hingga pukul 12.00 Wita tetap dilayani, seiring dengan penambahan dokter spesialis yang berjaga.
Selain aspek teknis pelayanan, Nyoman juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam dunia kesehatan. Menurutnya, secanggih apa pun teknologi dan selengkap apa pun fasilitas rumah sakit, tidak akan bermakna tanpa pelayanan yang dilakukan dengan empati dan hati nurani.
Editor: Aspian Nur