Selama 16 hari pelaksanaan, sejak 23 Oktober hingga 5 November, perputaran uang dari seluruh rangkaian kegiatan diperkirakan mencapai Rp8 miliar.
Ketua Panitia Festival Dahau 2025, FX Sumardi, menjelaskan angka tersebut merupakan hasil rekap koordinasi dengan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kubar.
Dari hasil pencatatan, total sementara perputaran uang selama pelaksanaan festival mencapai sekitar Rp6,6 miliar, belum termasuk transaksi pada tanggal 4 dan 5 November 2025.
“Masih ada dua hari terakhir yang belum masuk rekap. Kalau ditotal seluruhnya, kemungkinan bisa menembus Rp8 miliar. Angka ini menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi masyarakat selama festival berlangsung, mulai dari pedagang makanan, pengrajin, hingga pelaku UMKM yang ikut merasakan dampaknya,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Kamis (6/11/2025).
Menurut Sumardi, tingginya transaksi tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa sekaligus potensi besar kegiatan berbasis budaya dalam mendorong ekonomi lokal.
“Kegiatan ini bukan hanya pesta rakyat, tapi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh. Banyak pedagang dan pengrajin yang mengaku dagangannya laris setiap hari,” katanya.
Selama pelaksanaan, panitia melibatkan berbagai unsur mulai dari OPD, perusahaan, perbankan, PKK, hingga 16 kecamatan se-Kubar. Beragam kegiatan digelar, seperti pameran pembangunan dan UMKM, lomba kuliner, olahraga tradisional, parade budaya, hingga layanan pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.
Puncak perayaan di Taman Budaya Sendawar menorehkan prestasi tersendiri dengan pemecahan dua rekor MURI, yakni peserta pria terbanyak mengenakan Kesapuq dan peserta wanita terbanyak mengenakan Tudung. Meski begitu, Sumardi menilai keberhasilan utama festival terletak pada manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti Festival Dahau berdaya hasil dan berdaya guna, sekaligus menjadi penggerak nyata roda perekonomian rakyat,” tegasnya.
Editor: Erwin