
Didukung Akses Memadai
Setidaknya ada 4 destinasi yang disambangi Koran Kaltim. Dari 4 destinasi tersebut, nyaris keseluruhannya memiliki akses jalan yang memadai. Sehingga para wisatawan tak harus merasakan kesulitan bila hendak mencapai lokasi wisata tersebut.
Seperti Destinasi Wisata Gunung S yang menjual halimun atau kabut pagi mereka. Destinasi ini dilengkapi dengan fasilitas untuk olahraga Paralayang. Untuk mencapai ke Gunung S, rombongan Koran Kaltim membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam dan mulai berangkat pukul 04.00 dinihari. Akses jalan sangat lancer, meski tak begitu besar dan cenderung berkelok-kelok khas jalanan menuju dataran tinggi.
Hawa dingin sangat terasa, bahkan embun sampai menutupi kaca mobil rombongan. Sesampai disana, hawa dingin makin menjadi-jadi. Sehingga disarankan untuk mengenakan pakaian tebal jika tak ingin menggigil kedinginan.

“Saya berangkat pukul 5 karena lokasi menginap kami tidak jauh. Pakai motor karena aksesnya juga sudah bagus. Datang kesini mau melihat embun, seperti diatas awan dan udaranya sejuk,” komentar salah satu pengunjung bernama Azhar yang berangkat Bersama teman-temannya dari Kutai Kartanegara.
Fasilitas umum seperti toilet, dan rumah-rumah penginapan pun sudah tersedia. Sehingga untuk wisatawan yang hendak menginap bisa dengan mudah menyewa fasilitas tersebut, atau bisa membawa tenda pribadi untuk suasana yang lebih natural.
Bukan cuma Gunung S, saat di Kutai Barat wisatawan juga bisa melihat tumbuhan endemic Kalimantan, seperti Anggrek Hitam. Berlokasi di Cagar Alam Padang Luway atau yang akrab dikenal dengan Kersik Luway, wisatawan bisa melihat langsung tumbuhan langka Anggrek Hitam langsung dihabitat aslinya.
Pemandu wisata bahkan mengingatkan agar jangan sampai memetik Anggrek Hitam dan tumbuhan lain di lokasi tersebut untuk menjaga ekosistem dan kelestarian tanaman tersebut.
“Cagar alam ini luasnya 40 hektare dan memiliki sekitar 57 jenis tanaman Anggrek,” ujar pemandu wisata.
Salah satu keunikan selain tanaman Anggrek Hitam, di Cagar Alam ini penuh dengan pasir putih khas pantai. Padahal cagar alam ini terletak di dataran tinggi dan Kawasan pegunungan.
Sudah Tersohor Hingga Luar Kutai Barat
Destinasi lain adalah Sungai Lakan. Jernihnya air yang menabrak bebatuan menjadi pemandangan segar tersendiri bagi wisatawan yang hendak menemukan suasana baru. Pengunjung pun langsung memiih untuk mandi dan berenang di Sungai Lakan.
“Saya dari Samarinda, di sana jelas tidak ada sungai seperti ini. Ini airnya bening sekali,” ujar Fajar, yang dating jauh-jauh dari Samarinda.
Fajar menjelaskan bahwa kedatangannya ke Kutai Barat memang untuk urusan pekerjaan. Tapi sebelum sampai di Kutai Barat, ia sudah dititipi berbagai pesan utuk mengunjungi Sungai Lakan dan wisata-wisata alam lain di Kutai Barat.

Tambang dan Sawit Jadi Tantangan
Meski sudah didukung fasilitas memadai, dan akses jalan yang mudah, sejumlah tantangan tetap tak bisa dihindarkan. Seperti ancamana perusahaan tambang dan perkebunan yang sawit yang siap menggerus kondisi alami destinasi wisata di Kutai Barat.
Seperti yang terjadi di Kampung Intu Lingau. Kampung yang menghasilkan ribuan buah durian setiap musim panen. Petinggi Kampung Intu Lingau, Abed Nego menyebutkan bahwa kampungnya telah dikelilingi izin pembukaan lahan untuk pertambangan dan perkebunan sawit yang dikeluarkan Pemerintah Pusat.
“Dari pusat semua sudah ada izinnya. Mengelilingi kampung kami, tapi kami tidak mau,” tegas Abed.
Durian asal Kutai Barat, atau yang biasa disebut Durian Melak menjadi primadona bagi warga Kalimantan Timur setiap musim panennya. Tak jarang wisatawan memang sengaja datang untuk menikmati durian langsung dari kebunnya.
Pesona Kutai Barat memang sangat indah. Kutai Barat bisa menyuguhkan apa yang tidak bisa disuguhkan daerah-daerah lain di Kaltim, khususnya daerah perkotaan.
Penulis : */Permata Rahayu
Editor : Bambang Irawan