Dalam diskusi tentang waktu ideal untuk mandi , argumen yang mendukung mandi pagi sering kali berfokus pada rasa segar dan dorongan untuk beraktivitas setelah bangun tidur. Dilansir The Conversation Kamis (25/9/2025) hari ini, banyak orang menyatakan kalau berendam di air hangat selama beberapa menit di pagi hari memberi mereka energi, melancarkan sirkulasi darah dan membantu mengatasi rasa kantuk, sehingga mereka siap beraktivitas.
Disisi lain, mereka yang memilih mandi sebelum tidur berpendapat kebiasaan ini menghilangkan keringat, debu dan polutan yang terkumpul sepanjang hari, mencegah residu ini menembus seprai dan secara teori meningkatkan kualitas tidur.
Mandi juga berperan penting dalam membersihkan kotoran, minyak dan keringat dari kulit. Setiap hari, kulit manusia mengumpulkan residu dari dirinya sendiri dan lingkungan, termasuk serbuk sari, debu dan partikel lainnya.
Jika residu ini tidak dibersihkan sebelum tidur, residu tersebut akan menempel diseprai, meningkatkan jumlah bakteri, tungau dan mikroorganisme yang bersentuhan langsung dengan tubuh selama berjam-jam.
Perlu diingat kulit adalah rumah bagi beragam bakteri yang mana setiap sentimeter persegi mengandung antara 10.000 hingga satu juta bakteri yang memakan minyak yang diproduksi oleh kelenjar keringat.
Meskipun keringat sendiri tidak menghasilkan bau, bakteri tertentu, seperti stafilokokus, memecah senyawa yang menghasilkan bau yang mungkin menjelaskan rasa segar yang diasosiasikan banyak orang dengan mandi.
Meskipun mandi malam dianggap higienis , kenyataannya lebih kompleks. Manusia berkeringat bahkan saat tidur dan menurut perkiraan ilmiah dapat mengeluarkan hingga setengah liter keringat setiap malam di samping ribuan sel kulit yang menempel di seprai.
Karena itu, setelah tidur semalaman, meskipun baru saja mandi ada kemungkinan akan terbangun dengan bau badan tertentu, akibat aktivitas bakteri saat tidur.
Frekuensi pencucian sprei memainkan peran penting dalam diskusi ini. Mandi malam hari membantu menjaga kebersihan tubuh sebelum tidur, tetapi jika sprei tidak dicuci secara teratur, sprei dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, jamur dan tungau debu.
Beberapa ahli menunjukkan bahwa mikroorganisme ini dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu pada selimut, bantal, dan seprai, sehingga meningkatkan risiko reaksi alergi dan potensi masalah dermatologis, terutama pada individu yang rentan. Diperkirakan misalnya hingga 76 persen penderita asma berat menunjukkan reaksi alergi terhadap jamur yang terdapat pada sprei. Paparan tungau dan ekskresinya yang terus-menerus juga dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan berkembangnya alergi.
Penumpukan ini bisa sangat berbahaya jika seprai tidak dicuci secara teratur. Tidur di tempat tidur yang kotor secara teratur juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit, meskipun bukti ilmiah belum memungkinkan kita untuk memastikannya secara pasti.
Argumen lain yang mendukung mandi malam berkaitan dengan potensi manfaatnya bagi tidur . Sebuah meta-analisis yang meninjau hasil 13 studi menemukan fakta mandi dengan air hangat selama 10 menit, satu hingga dua jam sebelum tidur, membantu orang tertidur lebih cepat.
Peningkatan suhu tubuh yang sedikit, diikuti oleh penurunannya, diyakini menandakan ritme sirkadian yang memicu keadaan relaksasi yang memfasilitasi transisi menuju tidur. Terlepas dari temuan ini, para ahli bersikeras hubungan antara suhu tubuh dan tidur masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Saat memutuskan kapan harus mandi, pendapat para ahli memberikan wawasan yang menarik. “Jika Anda mandi di malam hari, Anda akan tidur dalam keadaan bersih dan segar, tetapi Anda akan tetap berkeringat sepanjang malam,” kata Primrose Freestone, seorang ahli mikrobiologi di Universitas Leicester di Inggris.
“Mungkin lebih penting untuk mencuci seprai daripada mandi di malam hari,” kata Holly Wilkinson , dosen senior Penyembuhan Luka dan Mikrobioma di Universitas Hull di Inggris. “Karena jika Anda mandi dan membiarkan seprai tetap terpasang selama sebulan, bakteri, kotoran dan tungau debu akan menumpuk,” jelasnya.
Bukti menunjukkan mandi pagi dan sore hari memberikan manfaat, tetapi relevansinya terhadap kesehatan sehari-hari lebih rendah dibandingkan frekuensi mencuci seprai dan membersihkan area tubuh utama.
Rekomendasi umum adalah mereka yang mandi sekali sehari dapat memilih waktu yang paling sesuai dengan gaya hidup mereka. Namun, selama kebersihan dasar terjaga dan seprai dicuci secara teratur, tidak ada waktu terbaik untuk mandi yang valid secara universal.
Editor: Aspian Nur