Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan tulisan tangan memberikan manfaat kognitif yang tidak dapat diberikan oleh alat digital.
Tindakan artistik berupa menggeser pena diatas kertas untuk menulis menghasilkan serangkaian aktivitas mental yang melibatkan ingatan, pembelajaran dan bahkan serangkaian fungsi eksekutif yang beroperasi di latar belakang tetapi penting untuk tugas tersebut.
Dr Alejandro Andersson, ahli saraf, ahli neurofisiologi dan direktur medis dari Institut Neurologi Buenos Aires (INBA), Argentina menjelaskan kalau menulis dengan tangan mengaktifkan lebih banyak wilayah otak daripada mengetik, hal itu menurut penelitian dengan elektroensefalografi dan resonansi fungsional.
"Ini melibatkan area motorik halus, sensorik, bahasa, dan memori. Sementara itu mengetik melibatkan pengulangan gerakan jari yang seragam dan aktivasi yang lebih terbatas," kata Andersson melansir dari laman infobae.com Senin (22/9/2026) hari ini.
"Sebuah studi dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada tahun 2024, menunjukkan tulisan tangan menghasilkan gelombang otak alfa dan theta, yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran,” jelasnya lagi.
Para peneliti seperti Ramesh Balasubramaniam dari Universitas California merangkum hal ini sebagai perbedaan mendasar dalam organisasi otak antara tulisan tangan dan mengetik.
Sementara itu, Adriana Zillioto , lulusan Psikologi dan grafolog, koordinator Lokakarya Re-edukasi Menulis untuk Parkinson dan Neurologi di Rumah Sakit Klinik Universitas Buenos Aires (UBA) menjelaskan kalau menulis melibatkan sejumlah aktivitas mental yang umum terjadi pada tulisan tangan dan mengetik (baik di PC maupun ponsel). "Proses-proses ini mencakup berbagai jenis memori dan fungsi eksekutif seperti perencanaan, eksekusi , dan pemantauan , yang beroperasi di latar belakang tetapi penting untuk membentuk isi dan struktur teks," kata Adriana.
"Menulis melibatkan beragam proses mental yang diaktifkan baik saat menulis dengan tangan maupun saat mengetik, baik di komputer maupun ponsel. Namun, saat mengetik, perangkat teknologi tersebut mengotomatiskan aspek-aspek tertentu dalam menulis, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk mengaktifkan mekanisme yang fundamental dalam menulis tangan," ucapnya.
Baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, pensil atau pulpen lebih ampuh daripada papan ketik. Menurut sebuah studi, dengan tangan untuk menulis dapat menghasilkan pemahaman konseptual yang lebih baik terhadap informasi tersebut.
Menurut Andersson, terdapat konsensus yang jelas di masa kanak-kanak yaitu belajar menulis dengan tangan itu penting. Namun ia menekankan pada masa remaja dan dewasa , konsensus tersebut kurang jelas.
"Setelah pondasi kognitif diperoleh , menulis tangan tidak lagi penting untuk terus belajar. Papan ketik memberikan efisiensi dan kecepatan dan otak orang dewasa dapat mempertahankan proses memori dan pemahaman tanpa perlu menulis tangan setiap hari," jelas Andersson lagi.
Manfaat pensil dan kertas bagi anak menurut para ahli adalah meningkatkan keterampilan motorik halus dan koordinasi visual-motorik, meningkatkan ejaan, pemahaman bacaan dan memori kerja.
Bagi orang dewasa dan orang lanjut usia, tulisan tangan dapat berfungsi sebagai latihan stimulasi kognitif, seperti halnya belajar bahasa atau memainkan alat musik.
"Ini secara bersamaan mengaktifkan area motorik, persepsi, dan memori, memaksa kita untuk merencanakan, mengurutkan dan mempertahankan perhatian . Ini dapat membantu menjaga plastisitas otak dan memperlambat penurunan kognitif . Karena itu meskipun kehidupan sehari-hari bersifat digital, memulihkan kebiasaan menulis dengan tangan, meskipun dalam dosis kecil, tetap menyehatkan otak," rangkum sang dokter.
Lalu apa yang akan terjadi jika kita berhenti menggunakan pena dan kertas? "Jika kita jarang menulis dengan tangan di masa depan, otak akan mengalami reorganisasi , seperti yang terjadi ketika kita beralih dari tradisi lisan ke tulisan atau dari pena ke papan ketik. Kita akan kehilangan sebagian integrasi sensorimotorik yang disediakan oleh tulisan tangan, mendapatkan adaptasi lain yang terkait dengan dunia digital. Yang lebih penting, daripada medianya, adalah kedalaman pemrosesan mental ," pungkas Andersson.
Editor: Aspian Nur