"Apnea tidur sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar, tetapi temuan kami menunjukkan dampak sebenarnya mungkin diremehkan," kata Lucia melansir dari American Journal Sabtu (30/8/2025) hari ini.
Fenomena ini digambarkan sebagai peningkatan episode apnea yang berkaitan langsung dengan perubahan kebiasaan tidur dan gangguan yang disebabkan oleh aktivitas sosial di malam hari .
Studi yang dipublikasikan di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini mengkaji data lebih dari 70.000 orang dewasa dari berbagai wilayah di dunia menggunakan sensor pemantauan tidur di rumah yang telah tervalidasi. Analisis tersebut mengungkapkan peningkatan keparahan OSA yang konsisten dan signifikan selama akhir pekan.
Hasilnya menunjukkan indeks apnea-hipopnea atau Apnea Hipopnea Index (AHI) 18 persen lebih tinggi pada hari Sabtu dibandingkan hari Rabu.
“Tim peneliti melaporkan partisipan 18 persen lebih mungkin mengalami OSA sedang hingga berat pada akhir pekan (Sabtu) dibandingkan dengan pertengahan minggu (Rabu)," jelas Lucia lagi.
Efeknya paling terasa pada pria, yang 21 persen lebih mungkin mengalami OSA sedang hingga berat pada akhir pekan dibandingkan dengan 9 persen pada wanita .
Pada orang dewasa dibawah 60 tahun, risiko mengalami peningkatan hal ini adalah 24 persen, dibandingkan dengan 7 persen pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas.
“Sebagaimana yang dijelaskan dalam studi tersebut, rata-rata AHI 6 persen lebih tinggi pada akhir pekan dibandingkan hari kerja, yang menunjukkan peningkatan rata-rata 0,76 kejadian per jam pada tingkat kelompok,” paparnya.
Perubahan pola tidur jadi satu diantara pemicu utama fenomena yang diamati. Tidur larut malam, kecenderungan untuk tidur lebih lama atau catch-up sleep, mengkonsumsi alkohol dan merokok diakhir pekan meningkatkan keberadaan dan keparahan OSA.
“Satu dari temuan menyoroti kalau tidur 45 menit atau lebih ekstra di akhir pekan meningkatkan resiko memburuknya apnea tidur sebesar 47 persen," ucap Lucia.
Penelitian ini juga menekankan konsep jetlag sosial , yang didefinisikan sebagai keterlambatan 60 menit atau lebih dalam permulaan tidur ketika membandingkan hari kerja dan akhir pekan, yang dikaitkan dengan peningkatan tambahan sebesar 38 persen dalam kemungkinan mengalami apnea pada hari Sabtu.
"Peningkatan penggunaan alkohol dan rokok telah terdokumentasikan pada akhir pekan. Hal ini sesuai dengan temuan kami kalau efek apnea sosial khususnya terasa pada pria dan orang yang lebih muda, subkelompok demografis dengan penggunaan alkohol dan tembakau yang lebih tinggi," ulasnya
Tim peneliti memperingatkan lonjakan OSA di akhir pekan ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, depresi, demensia, kelelahan parah dan kecelakaan .
"Peningkatan gangguan pernapasan saat tidur di akhir pekan dapat meningkatkan resiko kondisi kesehatan serius yang terkait dengan apnea tidur yang tidak diobati,” ungkap Lucia.
Diantara rekomendasi yang diusulkan untuk mengatasi apnea sosial, mereka menyarankan mempertahankan rutinitas tidur yang teratur, mempertahankan jadwal tidur yang sama sepanjang minggu dan akhir pekan serta memastikan 7–9 jam tidur yang direkomendasikan setiap malam.
Kelompok ahli juga menganjurkan untuk terus menggunakan terapi tekanan saluran napas positif berkelanjutan bahkan di akhir pekan.
Editor: Aspian Nur