Adalah Seirian Sumner, seorang profesor Ekologi Perilaku di University College London yang memperingatkan agar tetap tenang saat tiba-tiba tawon datang. “Itu mungkin memicu mode serangan tawon kalau kita mengibaskan tangan mengusirnya dan kemudian berlari,” tulis Sumner di The Conversation. “Tutup mulut dan hindari bernapas berat untuk meminimalkan pelepasan karbon dioksida, yang digunakan tawon sebagai sinyal predator sedang menyerang,” ungkapnya.
Cara terbaik untuk mencegah mereka mengganggu adalah dengan memberikan “persembahan” berupa makanan. “Apakah hewan itu memotong roti, mengumpulkan selai atau menghirup minuman manis?’ tanya Sumner. “Perhatikan apa yang dia makan karena ini memberi kita petunjuk tentang apa yang harus diberikan sebagai persembahan tawon,” jelasnya.
Makanan yang diberikan harus berupa sebagian dari apa yang dia ambil dari piring dan bisa dipindahkan sedikit jauh dari makanan yang lain agar tidak menggangu “Kalau membiarkannya mendapatkan bagian makanannya kita pun bisa makan dengan tenang,” jelas Sumner.
Memantau kebiasaan makan tawon dapat membantu memahami apa yang terjadi di dalam koloni mereka. Kalau mereka menginginkan ham atau jenis protein lain, itu berarti koloni mereka penuh dengan larva yang lapar.
Kalau hewan tersebut terobsesi dengan gula di meja, seperti selai atau minuman bersoda itu bisa jadi penanda koloni tawon tersebut kemungkinan sedang berada dalam fase senja kehidupannya. “Banyak dari kita diajarkan untuk takut pada tawon sebagai serangga agresif yang hanya ada untuk membuat hidup kita sengsara,” sebut Sumner.
"Namun dengan hilangnya satwa liar yang tidak berkelanjutan di seluruh planet kita perlu belajar hidup berdampingan dengan semua organisme bahkan tawon. Mereka adalah penyerbuk penting dan predator serangga. Sedikit pengetahuan tentang sejarah alam mereka dapat membantu kita makan dengan aman disamping hewan itu,” ucapnya.
Seorang ahli pengendalian hama memperingatkan tawon menyerang lebih awal dari biasanya tahun ini imbas cuaca hangat padahal biasanya, serangga-serangga ini paling agresif pada akhir musim gugur.
Laurence Edwards, seorang peternak lebah dan entomolog terkemuka mengatakan musim semi dan musim panas yang panas menciptakan kondisi sarang yang sempurna dan koloni-koloni tawon telah meledak dalam ukuran jauh lebih awal dari biasanya.
Edwards menyebut ini sebagai kumpulan faktor lingkungan yang sempurna. “Itu adalah kumpulan faktor lingkungan yang sempurna dan artinya semua orang harus waspada, baik untuk keselamatan mereka sendiri maupun keselamatan serangga lain, seperti lebah,” jelas Edwards.
Tusukan atau sengatan tawon dirancang sebagai mekanisme pertahanan diri, tetapi berbeda dengan lebah, tawon dapat menyengat berkali-kali.
Sengatan tawon cukup umum, terutama selama bulan-bulan hangat ketika orang-orang lebih sering berada di luar ruangan. Sengatan ini cenderung terjadi pada bulan-bulan akhir musim panas ketika struktur sosial koloni mulai runtuh.
Saat ini pola pikir kelompok berubah dari membesarkan lebah pekerja menjadi membesarkan ratu yang subur, yang akan hibernasi selama musim dingin untuk memulai koloni baru pada musim semi berikutnya. Setelah meletakkan telur, tawon berhenti memproduksi hormon tertentu yang menjaga koloni tetap terorganisir.
Hal ini menyebabkan lebah menjadi bingung dan kehilangan orientasi dan mereka cenderung mendekati makanan manusia yang manis seperti es krim dan selai.
Hal ini membuat mereka menjadi sasaran orang-orang yang ketakutan dan panik, yang mengganggu hewan-hewan tersebut dengan gerakan tangan yang mengibas-ngibas dan memukul-mukul majalah. Ketika serangga-serangga ini menjadi marah dan ketakutan, mereka cenderung menyengat.
Sengatan tawon dapat terasa tidak nyaman, tetapi kebanyakan orang pulih dengan cepat dan tanpa komplikasi.
Editor: Aspian Nur