Menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM), mimpi buruk adalah mimpi yang sangat jelas yang dapat mengancam, mengganggu, aneh atau menjengkelkan.
Mimpi buruk paling sering terjadi saat tidur rapid eye movement (REM) atau Gerakan mata cepat, seolah mimpi jadi sangat jelas, fase yang berkaitan dengan mimpi yang intens. Mimpi buruk paling sering muncul di paruh kedua malam, ketika lebih banyak waktu dihabiskan dalam tidur REM.
"Mimpi buruk biasanya berupa mimpi visual yang terasa nyata dan semakin mengganggu seiring perkembangannya, yang menyebabkan seseorang terbangun. Mimpi-mimpi ini seringkali melibatkan bahaya fisik yang mengancam," jelas AASM melansir dari laman infobae Kamis (7/8/2025) hari ini. Mimpi buruk juga dapat berfokus pada tema-tema lain yang mengganggu dan memicu emosi negative yang diantaranya menurut AASM Adalah kecemasan, takut, terror, amarah, malu, merasa jijik dan perasaan negatif lainnya.
Lalu apa arti mimpi buruk yang berulang menurut psikologi? Menurut mereka, mimpi buruk dapat memengaruhi siapa pun dan dalam kebanyakan kasus, penyebabnya tidak jelas. “Stres, kecemasan, rutinitas tidur yang tidak teratur atau kelelahan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko mimpi buruk,” ungkap AASM.
Dari perspektif psikoanalisis, Gloria Gitaroff , anggota penuh Asosiasi Psikoanalisis Argentina menjelaskan mimpi berfungsi sebagai pesan berkode dari keinginan yang tidak terpenuhi, ketakutan atau kekhawatiran bawah sadar .
Ketika tidur gagal memenuhi fungsi perlindungannya, ia berubah menjadi mimpi buruk dan menyebabkan terbangun dengan keadaan yang menyedihkan.
Ahli saraf Matthew Walker dari Universitas California, Berkeley, menyebut hubungan antara tidur dan kesejahteraan emosional masih menjadi misteri ilmiah. Namun para ahli sepakat faktor-faktor seperti stres , kekhawatiran sehari-hari dan perubahan suasana hati meningkatkan frekuensi mimpi buruk.
Episode-episode ini dapat menimbulkan kecemasan dan pikiran-pikiran yang terus-menerus sepanjang hari, yang memengaruhi suasana hati dan kemampuan berkonsentrasi.
Tidak semua mimpi buruk memiliki dampak yang sama. Gangguan mimpi buruk didiagnosis ketika mimpi buruk terjadi setidaknya sekali seminggu dan menyebabkan tekanan yang signifikan, rasa takut tidur, gangguan suasana hati, gangguan sosial dan kognitif serta masalah dengan fungsi keluarga atau pekerjaan.
Mimpi buruk yang terkait dengan trauma, seperti gangguan stres pascatrauma, cenderung lebih intens, dengan emosi yang terkait langsung dengan peristiwa traumatis, terbangun secara tiba-tiba dan meningkatnya rasa tidak berdaya.
Selama pandemi Covid-19, frekuensi mimpi buruk meningkat di seluruh dunia, sebuah fenomena yang dikaitkan dengan stres dan karantina. Sebuah studi yang dilakukan oleh Asosiasi Kedokteran Tidur Argentina mengamati persentase orang yang melaporkan mimpi buruk menurun seiring perkembangan pandemi, menunjukkan adanya hubungan langsung dengan konteks emosional dan sosial.
Mengenai isi mimpi buruk yang paling umum, Gitaroff mencatat mimpi buruk sering kali mencerminkan kecemasan yang berkaitan dengan tuntutan kehidupan nyata, seperti ketinggalan kereta atau pesawat, yang dapat melambangkan rasa takut tidak memenuhi harapan atau tidak siap menghadapi tantangan. Namun, setiap mimpi memiliki makna tertentu bagi orang yang mengalaminya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Michael Schredl dan Anja Göritz dari Institut Kesehatan Mental Pusat di Mannheim dan Universitas Freiburg, Jerman, menyelidiki mimpi buruk yang paling umum. Setelah menganalisis lebih dari 1.200 sukarelawan, mereka menentukan mimpi buruk yang paling umum, diantaranya;
- Kegagalan: Kesulitan atau ketidakmampuan si pemimpi untuk mencapai suatu tujuan. Ini termasuk terlambat, tersesat, tidak dapat berkomunikasi, melupakan sesuatu, atau membuat kesalahan. Delapan belas persen individu melaporkan mimpi ini, dan lebih umum terjadi pada pria.
- Agresi fisik: Ancaman, serangan langsung, penyerangan seksual, pembunuhan atau penculikan.
- Kecelakaan: Tenggelam, kecelakaan kendaraan, jatuh, dan lain-lain. Mimpi jenis ini dilaporkan oleh 15% peserta dan lebih umum terjadi pada pria.
Jika mimpi buruk terulang kembali atau memengaruhi tidur Anda secara negatif, para ahli menyarankan untuk berkonsultasi dengan seorang profesional.
Pendekatan terapeutik untuk mimpi buruk mencakup berbagai pilihan. Higiene tidur adalah langkah pertama, dilengkapi dengan terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif , terapi mimpi jernih, relaksasi otot progresif, desensitisasi sistematis dan EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing), yang khususnya diindikasikan untuk kasus stres pascatrauma baru-baru ini.
Dalam kebanyakan kasus, mimpi buruk tidak memerlukan perawatan . Bagi pasien dengan gangguan mimpi buruk yang mengalami gangguan tidur parah dan rasa kantuk di siang hari, perawatan dengan spesialis kedokteran tidur AASM merekomendasikan, dengan memberikan tips berikut untuk kebiasaan tidur yang sehat yaitu pertahankan jadwal tidur yang konsisten, bangun di waktu yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan atau saat liburan.
Tetapkan waktu tidur yang cukup awal untuk mendapatkan setidaknya 7 hingga 8 jam tidur, tetapkan rutinitas waktu tidur yang menenangkan, gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, jaga ruangan pada suhu yang sejuk dan menyenangkan, batasi paparan cahaya terang di malam hari, matikan perangkat elektronik setidaknya 30 menit sebelum tidur, hindari makan sebelum tidur, berolahragalah secara teratur, pertahankan pola makan yang sehat, hindari mengonsumsi kafein pada sore atau malam hari, hindari mengonsumsi alkohol sebelum tidur dan kurangi asupan cairan sebelum tidur.
Editor: Aspian Nur