“Sebaiknya menggunakan air bersuhu minimal 60 derajat dengan deterjen berbasis enzim untuk mencuci kaus kaki,” kata Freestone melansir dari laman dailymail.co.uk Sabtu (2/8/2025) hari ini.
“Enzim-enzim tersebut melepaskan bakteri dari serat kaus kaki, dan suhu tinggi membunuh bakteri dan jamur yang beradaptasi untuk hidup pada suhu kaki manusia. Jika mesin cuci tidak dapat mencuci kaus kaki dengan suhu 60 derajat celcius untuk membunuh mikroba, setrika panas dapat menjadi solusinya, terutama jika menggunakan fungsi uap,” paparnya
Panas setrika disebutnya bisa menembus jauh ke dalam kaus kaki yang akan membunuh bakteri, virus veruka atau jamur kaki terutama untuk olahragawan,” jelas Freestone.
Meskipun kaki tetap aman berada di dalam sepatu hampir sepanjang hari, kaki sebenarnya termasuk satu dari beberapa tempat terkotor di tubuh.
Penelitian menunjukkan kaki dapat memiliki 10 hingga 100 juta sel mikroba yang hidup di setiap sentimeter persegi kulit. Hal ini karena kaki hangat, gelap dan lembap saat mengenakan sepatu, kombinasi yang membantu bakteri berkembang biak.
Kaki terutama di sela-sela jari kaki, dipenuhi kelenjar keringat yang menjaga kondisi ideal untuk pertumbuhan mikroba. Lebih parah lagi, kaus kaki menangkap kotoran dan bakteri dari mana pun kita pergi. Kaus kaki bertindak sebagai “spons mikroba” untuk bakteri, jamur dan spora jamur dari tanah, air, bulu hewan peliharaan dan debu.
Dalam sebuah penelitian, kaus kaki memiliki jumlah bakteri dan jamur tertinggi dibandingkan pakaian lainnya setelah dipakai hanya selama 12 jam. Mikroba yang dikumpulkan oleh kaus kaki kemudian membuat rumah mereka di lingkungan kaki yang nyaman, tempat mereka berkembang biak dengan cepat.
"Kaki dapat menjadi inang (induk) bagi hingga 1.000 spesies bakteri dan jamur yang berbeda, beberapa diantaranya dapat menyerap keringat yang dihasilkan kaki dan metabolit limbahnya yang berbau busuk inilah yang menyebabkan kaki, kaus kaki dan sepatu berbau," jelas Freestone.
Bakteri-bakteri tersebut berkisar dari bakteri penghuni yang relatif tidak berbahaya hingga patogen yang berpotensi berbahaya seperti Aspergillus, Staphylococcus, Candida, Histoplasma dan Cryptococcus. Bakteri Staphylococcus adalah penyebab infeksi kulit staph yang menyebabkan lepuh dan abses yang menyakitkan.
Dalam kasus yang serius, infeksi staph bahkan dapat menyebabkan infeksi seperti keracunan darah dan sindrom syok toksik.
Sementara itu, Aspergillus adalah jamur yang menyebabkan kondisi pernapasan Aspergillosis, yang menyebabkan batuk berdahak yang dapat mengeluarkan gumpalan darah. Begitu bakteri berkembang biak di kaus kaki kemungkinan besar bakteri tersebut tidak akan menempel di sana.
Studi di rumah sakit menemukan kaus kaki selop yang dikenakan pasien membawa mikroba dari lantai ke tempat tidur, termasuk patogen yang resistan terhadap antibiotik.
Namun resiko infeksi terbesar dari kaus kaki berasal dari infeksi kulit yang lebih umum. "Anda dapat menularkan infeksi dari kaus kaki kotor seperti kutil kelamin, yang disebabkan oleh human papillomavirus dan sangat menular. Jadi, tidak mencuci kaus kaki lalu berjalan di lantai dapat menularkan virus Anda kepada orang lain. Jamur kaki para olahragawan juga hidup di kaus kaki dan dapat menyebar kalau tidak dicuci," sebutnya
Selain mengganti kaus kaki setiap hari, Freestone menekankan sangat penting untuk mencuci kaus kaki dengan benar agar terhindar dari infeksi.
"Mencuci kaus kaki dengan deterjen memang membantu membersihkannya, tetapi saya telah melakukan penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa beberapa bakteri masih tersisa di kaus kaki jika suhu pencuciannya tidak terlalu panas," jelas Freestone.
Mencuci pada suhu yang lebih tinggi atau menyetrika kaus kaki akan memastikan tidak ada patogen yang tidak diinginkan yang bertahan selama proses pencucian. "Kaus kaki saya sendiri dicuci dengan air panas menggunakan deterjen antibakteri dan disetrika dengan air panas, sehingga bersih berkilau—begitu pula kaki," jelasnya.
Cara Mencuci Kaus Kaki
Menurut Ahli Mikrobiologi
- Balikkan kaus kaki sebelum dicuci.
- Gunakan deterjen berbasis enzim untuk mengurai keringat dan residu kulit.
- Cuci minimal 60°C (140°F).
- Setrika atau uap setelah dicuci untuk membunuh mikroba yang tersisa.
Editor: Aspian Nur