Bagi pecinta olahraga, menjaga tubuh tetap bugar bagaimana pun harus tetap dilakukan, bahkan dalam suhu ekstrem sekali pun seperti yang terjadi saat ini.
Pilihan bagi mereka yang terbiasa berolahraga adalah menyerah pada keinginan mereka yaitu berolahraga atau tetap melakukan kegiatan seperti biasa dengan panas yang tak sesuai dengan protokol kesehatan.
Kulit merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia yang mengalami dampak paling langsung dari olahraga pada suhu ekstrem. "Selain patologi yang umum dialami semua atlet seperti lecet, infeksi seperti kutu air, atlet yang berolahraga di luar ruangan lebih banyak terpapar sinar matahari, sehingga mereka lebih rentan terhadap sengatan matahari dan patologi lain yang berasal dari paparan sinar matahari, penuaan dini akibat sinar matahari dan kanker kulit," jelas Dr Ingrid Hiltun, spesialis dermatologi dari Policlínica Gipuzkoa di negara Spanyol, melansir dari marca.com Rabu 30/7/2025) hari ini.
Ingrid Hiltun menyarankan untuk melindungi rambut dan kulit kepala dengan topi atau produk yang mengandung tabir surya bagi mereka yang berolahraga saat suhu ekstrem.
“Paparan sinar matahari yang berkepanjangan juga memengaruhi rambut dan kulit kepala, menyebabkan dehidrasi, kerapuhan, perubahan warna rambut dan kulit terbakar," jelas Ingrid.
Saat mengaplikasikannya ke kulit, perlu diingat kalau keringat mengurangi efektivitasnya, karena itu disarankan untuk menggunakan produk pakaian olahraga yang tahan air atau keringat, menggunakannya hanya dua jam dan sebisa mungkin menghindari latihan antara jam 12 hingga jam 3 sore.
Héctor Manuel Meijide Míguez , kepala Bagian Penyakit Dalam di Rumah Sakit Quirónsalud A Coruña, memperingatkan kalau suhu tinggi dapat berdampak serius pada tubuh saat berolahraga, memicu dehidrasi, kram panas, kelelahan akibat panas dan bahkan sengatan panas, suatu keadaan darurat medis yang bisa terjadi setiap saat.
“Aktivitas fisik di lingkungan panas meningkatkan detak jantung dan dapat menyebabkan dekompensasi pada orang dengan penyakit kronis," jelas Hector.
Ketika tubuh terpapar skenario seperti ini, kerentanannya bervariasi tergantung jenis olahraga yang dilakukan.
"Umumnya, kepala, leher dan kulit yang terpapar sinar matahari akan lebih rentan . Dalam olahraga ketahanan seperti lari atau bersepeda, sistem kardiovaskular dan termoregulasi tubuh akan sangat tertekan . Disisi lain, olahraga dengan pakaian ketat atau peralatan berat (seperti sepak bola atau tenis), kepanasan dapat memengaruhi otot dan persendian , sehingga meningkatkan risiko cedera," ungkapnya.
Sementara Fisioterapis Álvaro García Rosado dari Pusat Kesehatan Quirónprevención di Madrid menjelaskan bagaimana perubahan musim memengaruhi performa orang yang berolahraga. "Ada penelitian yang melaporkan peningkatan sensitivitas terhadap rasa sakit akibat perubahan suhu dan kelembapan yang tiba-tiba,” ujarnya.
"Dalam menghadapi suhu ekstrem atau gelombang panas, anda harus menghindari siang hari dan memilih olahraga pagi atau sore hari. Hidrasi harus dimulai sebelum berolahraga dan dijaga selama dan sesudahnya. Kenakan pakaian yang ringan, menyerap keringat dan berwarna terang, serta tabir surya," kata Alvaro. "Mendengarkan tubuh dan mengurangi intensitas serta volume olahraga membantu mencegah komplikasi seperti kelelahan akibat panas atau dehidrasi parah," pungkasnya.
Editor: Aspian Nur