Angka stunting di Indonesia sendiri saat ini masih sangat tinggi. Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGN) 2022, prevalensi stunting di Indonesia berada di kisaran angka 21,6 persen. Jumlah ini menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4 persen.
Walaupun mengalami penurunan, angka tersebut masih relatif tinggi, mengingat target prevalensi stunting Indonesia di tahun 2024 sebesar 14 persen dan standar organisasi kesehatan dunia (WHO) dibawah 20 persen.
Diperlukan kerja sama dan gotong royong dari berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah stunting, diantaranya dengan terus berupaya memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk dengan mengkonsumsi jagung.
Merujuk informasi pada Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (PDSIP) Kementerian Pertanian, kandungan gizi per 100 gram jagung adalah protein (8,28 gr), lemak (3,90 gr), karbohidrat ( 73,7 gr), kalsium (10 mg), fosfor (256 mg), ferrum (2,4 mg), vitamin A (510 SL), vitamin B1 ( 0,38 mg), air (12 gr).
Tidak hanya itu, komposisi asam amino yang terkandung dalam jagung juga terdiri atas asam aspartat sebesar 0,68 persen, asam glutamate 1,95 persen, leusin 1,26 persen, dan beberapa kandungan lainnya seperti glosin, alanin, metonin, dan tripofan.
Dengan kandungannya yang lengkap itu menjadikan jagung sebagai salah satu alternatif makanan untuk mencegah stunting, meskipun harus tetap didampingi sumber gizi dari makanan lain seperti protein dari ikan laut, vitamin, sayur dan buah-buahan.
Alasan lain yang menjadikan jagung cocok sebagai makanan alternatif untuk mencegah stunting di tanah air adalah terkait ketersediaannya yang melimpah. Luas pertanian tanaman jagung terhampar mulai dari Sabang hingga Merauke.
Dari ragam keunggulan jagung sebagai makanan alternatif untuk mencegah stunting, hal yang paling penting adalah keamanannya jika dikonsumsi rutin, terutama bagi kesehatan balita dan anak-anak.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Hasto Wardoyo memastikan jagung merupakan makanan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi.
Masyarakat pun diajak untuk menjadikan jagung sebagai sumber pangan alternatif, termasuk bagi balita, karena nilai kandungannya yang lengkap dan tetap aman jika dikonsumsi kalangan anak tersebut.
Nilai kandungan dalam jagung, kata dia, sudah lengkap dan baik untuk metabolisme tubuh, termasuk asupan bagi balita, karena mengandung serat, magnesium, fosfor, dan Vitamin C.
Editor: Aspian Nur