"Orang-orang yang merasa dirinya adalah “burung hantu malam” mungkin perlu lebih memperhatikan gaya hidup mereka karena kronotipe malam mereka dapat menambah risiko diabetes tipe 2," ujar Tianyi.
Kronotipe adalah kecenderungan alami seseorang untuk mencari aktivitas dan tidur pada waktu yang berbeda. Tim peneliti sebelumnya menemukan orang yang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur memiliki resiko lebih tinggi terkena diabetes dan penyakit jantung.
Mereka juga menemukan data orang dengan kronotipe malam hari lebih cenderung memiliki pola tidur yang tidak teratur.
Untuk penelitian baru ini mereka ingin memahami hubungan antara kronotipe dan resiko diabetes, jadi mereka juga melihat peran faktor gaya hidup.
Tim peneliti menganalisis data dari lebih dari 63 ribu perawat wanita di Eropa dan memasukkan kronotipe yang dilaporkan sendiri, sejauh mana para partisipan menganggap diri mereka sebagai orang yang suka begadang atau orang yang suka bangun pagi serta kualitas diet, berat badan dan indeks massa tubuh (BMI), waktu tidur, serta kebiasaan minum alkohol dan merokok.
Sekitar satu dari sembilan partisipan melaporkan memiliki kronotipe malam hari, sementara lebih dari sepertiganya (35 persen) melaporkan memiliki kronotipe pagi hari. Sisanya diberi label menengah, yang berarti mereka diidentifikasi sebagai bukan tipe pagi atau malam atau hanya sedikit lebih banyak dari yang lain.
Kronotipe malam dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 72 persen sebelum memperhitungkan faktor gaya hidup. Setelah memperhitungkan hal-hal ini, kronotipe malam dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 19 persen.
Di antara mereka yang dianggap memiliki gaya hidup paling sehat dalam penelitian ini, hanya enam persen yang memiliki kronotipe malam.
Namun diantara mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat, 25 persen diantaranya memiliki kronotipe malam, menurut temuan yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine.
Mereka yang memiliki kronotipe malam ditemukan lebih cenderung minum alkohol dalam jumlah yang lebih tinggi, memiliki pola makan makanan berkualitas rendah, kurang tidur, merokok dan memiliki berat badan, BMI, serta tingkat aktivitas fisik dalam kisaran tidak sehat.
Sisanya diberi label menengah yang berarti mereka diidentifikasi sebagai bukan tipe pagi atau malam atau hanya sedikit lebih banyak dari yang lain.
Kronotipe malam dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 72 persen sebelum memperhitungkan faktor gaya hidup.
Setelah memperhitungkan hal-hal ini, kronotipe malam dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 19 persen.
Diantara mereka yang dianggap memiliki gaya hidup paling sehat dalam penelitian ini, hanya enam persen yang memiliki kronotipe malam. Namun di antara mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat, 25 persen di antaranya memiliki kronotipe malam, menurut temuan yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine.
Mereka yang memiliki kronotipe malam ditemukan lebih cenderung minum alkohol dalam jumlah yang lebih tinggi, memiliki pola makan makanan berkualitas rendah, kurang tidur, merokok, dan memiliki berat badan, BMI, serta tingkat aktivitas fisik dalam kisaran tidak sehat.
Editor: Aspian Nur