Dilansir dari antaranews.com Sabtu (26/8/2023) hari ini, survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2020 mengungkapkan 76,8 persen orangtua mengizinkan anaknya menggunakan telepon pintar selain untuk belajar.
Meski demikian, mayoritas orangtua selalu mengingatkan bahaya negatif kepada anak-anaknya tentang kecanduan gawai.
Satu diantara keadaan yang perlu diwaspadai adalah penggunaan gawai oleh anak tanpa peduli pada batasan waktu. Bahkan, gawai itu tetap berada di genggaman anak saat makan. Sekilas, memberi fasilitas anak dengan bermain gawai saat makan itu sangat membantu, karena si anak biasanya menjadi lahap menghabiskan makanan.
Kalangan medis, terutama yang mendalami spesialisasi kejiwaan, mengingatkan dampak negatif ketika anak dibiarkan bermain gawai sambil makan.
Rasa puas orangtua melihat anaknya lahap menghabiskan makanan ketika dilakukan sambil bermain gawai, muncul karena memandang si anak hanya sebagai onggokan daging membungkus tulang yang hanya memerlukan asupan makanan.
Padahal, ada jiwa dalam diri si anak yang juga harus mendapatkan asupan gizi, yang perkembangannya juga harus dilalui dengan proses latihan untuk mencapai kematangan.
Dampak yang ditimbulkan akibat anak makan sambil bermain gawai itu adalah obesitas. Hal itu terjadi karena saking fokusnya pada permainan di gawai, si anak tidak mampu mengontrol lambungnya yang sebetulnya sudah kenyang. Apalagi, dengan kebiasaan bermain gawai itu membuat gerakan tubuh si anak menjadi terbatas.
Semua dampak yang kemungkinan besar terjadi akibat anak sulit melepaskan diri dari jeratan gawai harus menjadi perhatian utama semua orangtua.
Orangtua jangan terlena dengan keadaan anak menjadi anteng saat diberi mainan HP. Mari kembali ke kebiasaan lama saat dunia ini tidak disibukkan oleh hadirnya teknologi canggih, berupa telepon genggam dan internet, seperti saat ini.
Kalau kebiasaan lama, orangtua memiliki waktu yang banyak untuk berinteraksi secara dekat dengan anak dan keluarga besar, mari kita kembali ke tradisi itu demi masa depan anak-anak yang lebih baik.
Ajak anak untuk bermain dengan membuat keterampilan dari kertas atau kardus bekas. Pilihannya bisa dibuat mainan pesawat udara atau kapal laut, mobil-mobilan atau bentuk-bentuk lainnya.
Pilihan ini memang memerlukan kesabaran dan ketelatenan dari orangtua. Untuk memotivasi para orangtua agar mau memilih jalan menemani anak berkreasi adalah dengan membayangkan anak menjadi bertambah usia dan berubah ukuran tubuhnya, sementara jiwanya tetap stagnan sebagai anak-anak.
Kalau perkembangan tubuh dan jiwa tidak berimbang, maka lagi-lagi orangtua yang akan menanggung "penderitaan", bukan hanya si anak yang dianggap kondisinya tidak normal. Anak seperti ini justru akan menjadi "beban" bagi orangtua.
Menjadi teman bermain bagi anak akan memunculkan banyak hal positif pada anak dalam memperjalankan jiwanya menjadi dewasa bersama fisiknya.
Kedekatan fisik dan jiwa antara orangtua dan anak akan menumbuhkan jiwa yang tenang, damai, dan rasa percaya diri anak akan tumbuh dengan maksimal. Jiwa si anak tidak merasa kesepian karena ada sosok ayah dan ibu yang selalu mendampinginya bertumbuh.
Jika membuat barang keterampilan bersama juga menemukan rasa bosan pada anak, orangtua bisa memilih aktivitas lain di luar ruang. Aktivitas itu bisa bermain bola bersama dengan anak atau bermain bulutangkis atau menemani anak bermain sepeda dan lainnya.
Dengan berbagai aktivitas yang melibatkan berbagai indra dari tubuhnya itu, anak akan menjadi lebih realistis dalam memandang kehidupan, karena yang dilihat, dikerjakan atau diraba, adalah sesuatu yang nyata, tidak seperti di gawai yang hanya maya.
Dengan bermain secara fisik itu, orangtua juga mengajarkan kehidupan itu tidak instan, seperti yang digambarkan dalam permainan-permainan di dalam gawai. Dengan membuat keterampilan dari barang bekas, orangtua mengajarkan perlunya bersabar dengan proses untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita.
Boleh jadi dalam proses itu anak dan orangtua mengalami kegagalan. Justru dengan kegagalan itu, kita mengajarkan tentang proses yang tidak semuanya berjalan mulus atau selalu sesuai rencana. Anak diajarkan bahwa adakalnya dalam perjalanan hidup itu mengalami kegagalan. Kegagalan tidak bisa dihadapi dengan ratapan, penyesalan, apalagi hanya menyalahkan pihak lain. Kegagalan hanya bisa dihadapi dengan introspeksi diri dan memperbaiki apa yang kurang baik dari upaya sebelumnya hingga membawanya pada kegagalan.
Beberapa orangtua mungkin akan mengeluh, tidak mudah mengalihkan perhatian anak pada gawai karena sudah telanjur kecanduan. Tidak ada cara lain, kecuali dengan memulai kebiasaan yang baru. Lagi-lagi memerlukan kesabaran dan ketelatenan orangtua untuk mengalihkan anak pada permainan pada dunia nyata.
Hukum dasar tentang jiwa yang harus diketahui orangtua dari pola pengasuhan kepada anak adalah anak adalah peniru yang ulung. Anak yang telanjur kecanduan gawai, patut diduga orangtuanya juga telah memberi contoh. Karena itu, orangtua juga harus mengambil keputusan besar untuk berjeda beberapa jam dengan gawai dalam setiap hari. Jangan selama 16 jam, yakni 24 dikurangi tidur sekitar 8 jam, waktu kita hanya habis untuk bermain dengan telepon seluler.
Editor:: Aspian Nur