"Apnea tidur obstruktif adalah hal yang umum terjadi, namun sebagian besar dari mereka yang terkena dampaknya tidak mengetahui mereka memiliki kondisi tersebut,” kata Dr Pauline Balagny dari Universitas Paris-Cité dilansir dari thesun.co.uk Kamis (11/5/2023) hari ini. "Temuan kami sejalan dengan penelitian di negara lain yang menunjukkan kondisi ini semakin umum terjadi. Kami tahu ini adalah bahaya kesehatan yang besar, tetapi jika pasien didiagnosis dengan kondisi ini, mereka dapat diberikan perawatan dan saran untuk mengurangi risikonya,” paparnya.
Apnea tidur biasanya dapat diobati dengan perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok atau mengurangi jumlah minuman yang diminum.
Kasus yang serius mungkin memerlukan mesin Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yang memompa udara ke dalam masker yang dikenakan di mulut atau hidung saat tidur.
Gejala penderita apnea tidur meliputi napas yang berhenti dan mulai saat tertidur membuat suara terengah-engah, mendengus atau tersedak, sering terbangun dan mendengkur keras.
Pada siang hari penderitanya juga merasa sangat lelah, sulit berkonsentrasi, mengalami perubahan suasana hati dan sakit kepala saat bangun tidur.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam ERJ Open Research meneliti data lebih dari 20.000 orang dewasa Prancis mengalami ngorok saat tidur. Mereka menggunakan kuesioner untuk mengukur berapa banyak yang mungkin memiliki OSA yang tidak terdiagnosis, berdasarkan apakah mereka memiliki gejala dan mereka menemukan 20 persen sangat mungkin mengalaminya, tetapi hanya 3,5 persen yang diobati.
"Banyak orang dengan OSA tidak menyadari mendengkur dan kantuk mereka adalah tanda-tanda adanya masalah. Kita perlu meningkatkan kesadaran akan OSA karena begitu orang didiagnosis, mereka dapat diberikan pengobatan dan saran untuk membantu menurunkan risiko kondisi serius lainnya,” jelas Profesor Winfried Randerath dari European Respiratory Society. "Meskipun OSA lebih sering terjadi pada pria, penelitian ini mengindikasikan perlu menjadi lebih baik dalam mengenali kondisi ini pada wanita," jelasnya.
Editor: Aspian Nur