Hal ini karena tingkat stres yang tinggi berdampak negatif pada kemampuan motorik dan kemampuan otak untuk memproses informasi, yang pada akhirnya membuat seseorang menggerakkan mouse dengan panik, kata para ilmuwan.
Studi ini juga menemukan orang yang stres akan memukul-mukul keyboard, mengambil banyak jeda dan membuat lebih banyak kesalahan pengetikan, sedangkan orang yang rileks akan mengambil jeda lebih sedikit namun lebih lama, sehingga menghasilkan lebih sedikit kesalahan.
Penulis utama studi ini Mara Nägelin, seorang ahli matematika di ETH Zurich, mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari dailymail.com Kamis (13/4/2023) hari ini "Orang yang stres menggerakkan penunjuk mouse lebih sering dan kurang tepat serta menempuh jarak yang lebih jauh di layar. Sebaliknya, orang yang santai mengambil rute yang lebih pendek dan lebih langsung untuk mencapai tujuan mereka dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk melakukannya,” ungkap Nagelin.
Para peneliti bekerjasama dengan 90 partisipan yang melakukan tugas-tugas kantor sambil mengenakan alat pemantau jantung.
Beberapa partisipan bekerja tanpa gangguan, sementara yang lain mengikuti wawancara kerja dan berulang kali terganggu oleh pesan-pesan obrolan.
Dan tim merekam perilaku orang tersebut lewat mouse dan keyboard yang dipegang. "Kami terkejut saat menemukan fakta perilaku mengetik dan mouse merupakan prediktor yang lebih baik untuk mengetahui bagaimana subjek yang mengalami stres dibandingkan dengan detak jantung," kata Nägelin.
Meskipun pria dan wanita mengalami stres di tempat kerja, sebuah studi tahun 2018 menemukan data peningkatan kadar stres lebih mungkin terjadi pada pria yang memiliki masalah jantung.
Para peneliti dari University College London juga menemukan fakta pria dengan masalah jantung enam kali lebih mungkin mengalami kematian dini jika mereka memiliki pekerjaan yang membuat stress, bahkan jika mereka tetap bugar dan makan makanan yang sehat.
Para ilmuwan berpendapat penjelasannya adalah pria lebih rentan mengalami penyumbatan arteri selama masa kerja mereka dibandingkan wanita, yang umumnya memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami masalah jantung sebelum menopause.
"Pekerjaan adalah sumber stres yang umum terjadi di masa dewasa, memicu respons stres alami yang telah diprogram dalam tubuh kita beberapa generasi yang lalu,” kata peneliti utama Profesor Mika Kivimäki dari University College London.
"Hal ini dapat mengakibatkan reaksi fisik terhadap situasi seperti stres kerja. Temuan kami memberikan bukti adanya hubungan antara stres kerja dan risiko kematian dini pada pria dengan penyakit kardiometabolik, seperti penyakit jantung koroner, stroke dan diabetes. Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol saja tidak mungkin dapat menghilangkan risiko yang berlebihan,” ucap Kivimaki.
Editor: Aspian Nur