Dr Jonathan Levy, seorang profesor kesehatan lingkungan di Universitas Boston di Amerika Serikat mengatakan, kompor gas mencemari rumah dengan nitrogen dioksida (NO2). Gas tersebut dapat menyebabkan asma pada anak-anak dan membuat orang dewasa berisiko terkena kanker. Dr Levy menjelaskan hasil temuannya ini dalam sebuah artikel yang ditulisnya di The Conversation.
Karena dapur adalah ruang tertutup, ketika gas ada di rumah, keluarga jauh lebih berisiko terkena kanker dan sifat penyebab asma.
“Ukuran rumah dan kualitas ventilasi juga berperan. Paparan nitrogen dioksida di rumah dikaitkan dengan asma yang lebih parah dan peningkatan penggunaan inhaler penyelamat pada anak-anak ," kata Dr Levy dilansir dari laman Thesun.co.uk Jumat (16/9/2022) hari ini.
"Gas ini juga dapat mempengaruhi orang dewasa penderita asma dan berkontribusi pada perkembangan dan eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronik," tambahnya.
Sebuah penelitian di Belanda mengungkapkan orang yang menggunakan kompor gas 42 persen lebih mungkin terkena asma. Bahkan ketika dimatikan, kompor gas mengeluarkan bahan kimia seperti metana yang tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga dapat menyebabkan detak jantung yang cepat dan kesulitan bernapas pada manusia.
Saat kompor gas dimatikan juga melepaskan benzena - bahan kimia yang terkait dengan berbagai jenis kanker termasuk leukemia.
Sebuah penelitian di AS baru-baru ini menemukan data 95 persen kompor gas melepaskan gas penyebab kanker.
Untuk mengurangi paparan keluarga terhadap gas berbahaya, Dr Levy menyarankan untuk mencoba meningkatkan ventilasi. "Cobalah membuat ventilasi ke luar dan membuka jendela dapur saat memasak. Ini akan membantu, tetapi tidak menghilangkan paparan, terutama bagi anggota rumah tangga yang berada di dapur saat memasak berlangsung," ujar Levy lagi.
Pakar tersebut juga mendorong orang untuk beralih ke kompor induksi magnetik – permukaan yang memasak lebih cepat daripada kompor konvensional, tanpa menyalakan api atau memanaskan kumparan listrik.
"Dalam pandangan saya, bahkan jika tidak terdorong untuk mengurangi jejak karbon atau hanya mencari cara untuk memasak pasta lebih cepat, kesempatan untuk memiliki udara yang lebih bersih di dalam rumah mungkin menjadi motivator yang kuat untuk beralih," paparnya.
Para ahli mengatakan pemberian antibiotik pada anak dapat meningkatkan peluang mereka terkena asma di kemudian hari. Penelitian baru menunjukkan paparan dini terhadap antibiotik dapat membunuh bakteri usus yang sehat yang dapat menyebabkan asma di masa dewasa.
Sementara itu, para ahli telah menemukan orang muda sekarang lebih beresiko terkena kanker daripada sebelumnya. Para ilmuwan percaya ini karena perubahan besar pada pola makan dan gaya hidup rata-rata orang Barat selama beberapa dekade terakhir.
Editor: Aspian Nur