Virus Langya bisa membunuh hingga tiga perempat manusia yang terpapar dalam kondisi yang parah dimana gejalanya diawali dengan flu, hampir sama dengan gejala virus corona.
Dikutip dari laman Dailymail.co.uk Rabu (10/8/2022) hari ini, virus baru ini diperkirakan ditularkan oleh tikus, mamalia kecil dari keluarga yang sama dengan landak dan tikus tanah.
Sebuah studi yang diterbitkan terakhir mengungkapkan virus itu pertama kali terdeteksi pada manusia pada 2019, dengan kasus terbaru tahun ini. Pakar Kesehatan China yang menyelidiki virus ini masih berusaha mencari tahu apakah Langya bisa menyebar dari orang ke orang.
Para peneliti yang dipimpin oleh Institut Mikrobiologi dan Epidemiologi Beijing menerbitkan temuan mereka tentang virus ini dalam sebuah penelitian di New England Journal of Medicine .
Mereka melihat kasus pertama sebelum Januari 2019 di Shandong, sebelum sekelompok 14 kasus ditemukan selama tahun berikutnya di kedua provinsi.
Tidak ada infeksi yang ditemukan selama tahun pertama pandemi pada Januari hingga Juli 2020, dengan para peneliti menghentikan sementara pekerjaan untuk focus mencegah penyebaran Covid-19 yang juga mewabah saat itu.
Namun saat penelitian dihentikan, virus Langya justru menyerang 11 orang lagi ditemukan dari bulan itu dan seterusnya. Para peneliti kemudian melacak gejala pada pasien untuk melihat seberapa parah orang terkena virus.
Gejala yang paling umum diderita oleh penderita Langya adalah demam dan suhu tubuh yang turun, kemudian kelelahan (54 persen), batuk (50 persen), kehilangan nafsu makan (50 persen), nyeri otot (46 persen) dan mual (38 persen). Sekitar 35 persen menderita masalah hati sementara 8 persen mengalami penurunan fungsi ginjal.
Mereka juga melacak virus pada populasi hewan untuk melihat apakah disebarkan oleh hewan peliharaan dan hewan liar atau justru dari manusia ke manusia.
Peneliti China akhirnya menemukan virus pada 71 dari 262 tikus yang disurvei di dua provinsi China tempat wabah dimulai. Selain tikus, virus itu juga ditemukan pada anjing (5 persen) dan kambing (2 persen).
Pelacakan dari sembilan pasien dengan 15 anggota keluarga kontak dekat mengungkapkan tidak ada transmisi LayV. “Tapi ukuran sampel kami terlalu kecil untuk menentukan status penularan dari manusia ke manusia untuk LayV,” ujar para penelitis
Langya adalah hepinavirus, jenis yang sama dengan virus Nipah yang merupakan patogen mematikan yang biasanya ditemukan pada kelelawar.
Seperti Covid, Nipah dapat menyebar melalui droplet pernapasan. Tapi itu jauh lebih mematikan, membunuh hingga tiga perempat orang yang terinfeksi. Virus ini tercatat sebagai virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi berikutnya oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Virus yang bisa membuat pembengkakan otak ini pertama kali ditemukan di Malaysia dan Singapura pada tahun 1999, ketika 300 kasus menyebabkan 100 kematian.
Editor: Aspian Nur