Oleh karena itu, mencubit pipi bayi baru lahir bisa membuat bayi berisiko mengalami gangguan kesehatan. Selain bayi merasa kesakitan, mereka juga bisa saja mengalami ruam dan dampak kesehatan lainnya.
Kulit bayi baru lahir masih sangat sensitif, sehingga ia bisa saja mengalami reaksi berlebihan terhadap tekanan yang seharusnya dapat ditoleransi dengan baik oleh kulit normal. Tekanan ini termasuk perubahan suhu, keringat, angin, paparan bahan kimia, atau bahkan sentuhan tangan seperti mencubit pipi.
Memang benar, karena terlalu lucu dan menggemaskan, terkadang kita tidak bisa menahan keinginan untuk mencubit pipi mereka. Dilansir dari Halodoc.com Senin (6/6/2022) hari ini, penelitian yang dilakukan University of California menyebutkan keinginan untuk mencubit pipi bayi tersebut disebut dengan cute aggression.
Sebenarnya agresi ini adalah keinginan alamiah manusia untuk meremas, mencubit, atau bahkan menggigit hewan atau manusia lain tanpa bermaksud menyakiti. Dorongan ini sebenarnya dilakukan hanya untuk mendapatkan sensasi kesenangan semata.
Meski begitu harus disadari bila dilakukan berlebihan apalagi tanpa memerhatikan kebersihan, ini bisa menempatkan anak pada risiko gangguan kesehatan. Jadi sebaiknya hindari mencubit pipi bayi baru lahir, berinteraksi dengan bayi menggunakan masker atau memegang dan memeluk bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Ingat, bagian luar masker pastinya telah terpapar debu dan polutan. Belum lagi jika mereka bersin atau sedang flu, maka masker yang dia kenakan pasti telah terdapat banyak sekali virus, kuman, atau bakteri yang tak kasatmata.
Besar kemungkinan polutan dan bakteri yang melekat di masker akan perpindah ke bayi. Yang perlu diingat, bayi baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang baik. Bayi baru lahir harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dari rahim ibu. Bayi baru lahir pun perlu waktu beradaptasi dan membangun sistem kekebalan tubuhnya sendiri untuk terhindar dari infeksi penyakit.
Infeksi pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh bakteri atau virus, akan tetapi jamur atau parasit juga bisa saja menjadi pemicunya meski kemungkinannya lebih kecil. Bakteri yang termasuk adalah Streptococcus grup B, Escherichia coli, Listeria monocytogenes, Gonococci, dan Chlamydia.
Sedangkan untuk kategori virus, termasuk herpes simpleks (HSV), human immunodeficiency virus (HIV), cytomegalovirus (CMV), dan virus hepatitis B (HBV).
Beberapa infeksi yang lebih serius pada bayi baru lahir meliputi bakteri meningitis, konjungtivitis, sitomegalovirus (CMV), virus hepatitis B (VHB) dan virus herpes simpleks (HSV). Bayi baru lahir juga bisa mengalami penularan infeksi dari rumah sakit seperti listeriosis, radang paru-paru, rubella, sepsis, sifilis, toksoplasmosis, tuberculosis, infeksi virus Zika.
Editor: Aspian Nur