Kini para ilmuwan yang berasal dari John Hopkins University (JHU) Amerika Serikat, sedang menguji coba vaksin yang berpotensi menjadi terobosan yang diharapkan melindungi semua orang dari mengganasnya serangan kanker pankreas saat masuk ke dalam tubuh.
Dilansir dari laman Dailymail.co.uk Selasa (24/5/2022) hari ini, sebuah tim dari JHU di AS baru saja memberikan suntikan pencegahan kepada sukarelawan pertama mereka, seorang wanita dengan riwayat keluarga yang memiliki penyakit kanker pankreas.
Mereka ingin melengkapi tubuhnya dengan alat untuk mengidentifikasi sel-sel jahat yang bisa menjadi kanker, memungkinkan sistem kekebalannya untuk meluncurkan misi “pencarian dan penghancuran” untuk mengatasi masalah sejak awal kalau terdapat kanker ganas itu.
Pendekatan baru terhadap penyakit ini – yang sekarang merenggut hampir 10.000 nyawa per tahun di Inggris sangat dibutuhkan.
Sementara tingkat kelangsungan hidup untuk kanker besar lainnya terus meningkat selama beberapa tahun terakhir, kanker pankreas membuat penderitanya tiga perempat meninggal dalam satu tahun diagnosis.
"Cara terbaik untuk mengobati penyakit ini adalah menangkapnya lebih awal karena sangat menantang," kata ahli onkologi Dr Neeha Zaidi yang memimpin uji coba ini.
“Ketika kanker berkembang, menjadi lebih sulit untuk diobati karena penyakit itu bersembunyi dari sistem kekebalan tubuh,” ungkapnya.
Para ahli telah menemukan lebih dari 90 persen kasus kanker pankreas terjadi setelah sel-sel organ mengembangkan mutasi ke gen tertentu yang disebut KRAS. Mutasi membuat sel membelah tak terkendali, yang akhirnya berarti kanker.
Beberapa orang sering salah dalam mengartikan kehadiran KRAS ke dalam tubuh mereka, padahal kalau diketahui sejak awal dapat mencegah kanker pankreas itu berkembang.
“Orang tidak dilahirkan dengan mutasi ini, perubahan terjadi di kemudian hari. Tapi kita tahu ada peluang yang sangat besar, karena dibutuhkan setidaknya satu dekade dari mutasi KRAS pertama yang terjadi, hingga perkembangan kanker pankreas," papar Zaidi lagi.
Vaksin tersebut mendorong sistem kekebalan untuk mengenali sel-sel yang mengandung gen KRAS yang bermutasi melalui protein kecil di permukaan.
Uji coba awalnya akan melibatkan 25 sukarelawan sehat yang berisiko tinggi terkena kanker pankreas karena riwayat keluarga.
Tim ingin memeriksa apakah suntikan itu aman dan mengukur respon imun yang dipicunya. Secara khusus, mereka akan mencari sel T yang secara khusus mampu mengenali sel yang terinfeksi KRAS.
Ada kemajuan besar dalam ilmu imunologi kanker, termasuk vaksinasi anak berusia 12 tahun terhadap human papillomavirus, yang menyebabkan kanker serviks.
Tetapi Dr Zaidi memperingatkan perlu satu dekade untuk mendapatkan bukti kuat vaksin atau pengganti berbasis mRNA yang diubah tersebut bias mencegah kanker pankreas.
"Ini adalah langkah pertama menuju tujuan yang sangat besar," tegasnya.
Ahli KRAS Profesor Julian Downward, dari Francis Crick Institute di London, menambahkan, ada rekam jejak 30 tahun orang yang mencoba melakukan ini. “Tetapi jika seseorang bisa mendapatkan vaksin yang benar-benar efektif dan dapat diluncurkan dalam strategi vaksinasi di seluruh populasi, itu akan membuat perbedaan dan perubahan besar,” kata Julian.
Editor: Aspian Nur