Insomnia kronis kurang umum dan terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan tidur setidaknya tiga kali seminggu, selama antara satu dan tiga bulan. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami masalah tidur setidaknya sekali seminggu, dengan hingga sepuluh persen memenuhi kriteria untuk gangguan insomnia.
Bahaya hidup dengan insomnia telah ditunjukkan dalam penelitian berkali-kali dan seiring waktu, kurang tidur dapat membuat orang sulit menjalani hidup sehat, karena kurangnya motivasi untuk makan makanan yang cukup bergizi atau berolahraga.
Tak hanya itu, perubahan dalam fisiologi tubuh juga terjadi, seperti meningkatnya tekanan dan kadar gula darah. Dilansir dari laman Thesun.co.uk Jumat (8/4/2022) hari ini, penyakit lain yang mengiringi penderita insomnia diantaranya adalah jantung.
Orang dengan kecenderungan genetik terhadap insomnia berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner, gagal jantung dan stroke menurut penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Circulation American Heart Association pada 2019.
Dan penelitian lainnya di China yang diterbitkan dalam jurnal Neurology menemukan fakta orang dengan ketiga gejala insomnia 18 persen lebih mungkin mengalami stroke atau penyakit jantung daripada mereka yang tidak memiliki gejala.
Gejala yang ditanyakan kepada 487.000 pasien adalah kesulitan tidur atau tetap tidur, bangun terlalu dini atau fokus yang buruk di siang hari karena kurang tidur.
Resikonya tidak berhenti di situ, karena sebuah penelitian yang diterbitkan pada April 2022 menunjukkan data, setengah dari mereka yang pernah mengalami serangan jantung mengalami insomnia.
Studi ini mengamati 1.068 pasien rata-rata 16 bulan setelah serangan jantung dan/atau prosedur untuk membuka arteri yang tersumbat. Insomnia mengancam jiwa dengan kemungkinan antara 40 hingga 60 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak kesulitan tidur.
Penyakit lain yang ditimbulkan dari insomnia adalah stroke.
Para ilmuwan dari McMaster University, Kanada, memantau kesehatan 116.632 orang dewasa selama delapan tahun setelah menanyai tentang tidur mereka. Selama waktu itu, 4.381 meninggal dan 4.365 lainnya menderita masalah kardiovaskular utama, seperti serangan jantung atau stroke.
Tidur kurang dari enam jam sehari meningkatkan resiko sebesar sembilan persen, temuan di tahun 2018 ini menunjukkan. Namun pada penelitian lain, terlalu banyak tidur juga berisiko karena tidur sembilan hingga sepuluh jam meningkatkan resiko serangan jantung atau stroke sebesar 17 persen.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga bisa muncul akibat insomnia. Hipertensi juga dikenal sebagai “silent killer” karena tidak memiliki gejala. Pada 2015, peneliti mempelajari 200 penderita insomnia kronis, membandingkan tidur dan tekanan darah mereka dengan 100 orang tanpa kondisi tersebut.
Orang dengan insomnia kronis yang membutuhkan waktu lebih dari 14 menit untuk tertidur saat siang hari memiliki tiga kali risiko tekanan darah tinggi, menurut hasil yang dipublikasikan di Hypertension. Tekanan darah tinggi itu sendiri dapat menyebabkan masalah mematikan seperti stroke atau serangan jantung.
Diabetes tipe 2 juga bisa ditimbulkan penderita insomnia. Para peneliti di Universitas Bristol menemukan orang yang sulit tidur atau tetap tidur memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi daripada orang yang jarang mengalami masalah tidur.
Ini bisa memainkan peran langsung dalam pengembangan diabetes tipe 2, kata mereka berdasarkan penelitian terhadap lebih dari 336.999 orang dewasa di negara Inggris, yang diterbitkan pada April 2022. Diperkirakan 27.000 orang dewasa di Inggris dengan insomnia bisa bebas dari diabetes jika kondisi tidur mereka ditangani.
Diabetes tipe 2 membutuhkan manajemen seumur hidup. Tanpa pengobatan yang efektif, risiko komplikasi menjadi lebih tinggi. Ini termasuk serangan jantung, stroke, penyakit ginjal dan masalah serius dengan mata dan saraf.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah insomnia, termasuk berhenti menggunakan ponsel setidaknya satu jam sebelum waktu tidur, membuat kamar tidur menjadi sejuk dan bangun pada waktu yang sama setiap pagi.
Namun bagi orang-orang dengan bentuk insomnia yang serius tidak sesederhana itu. Jika seseorang mengalami masalah selama berbulan-bulan harus mendapatkan perawatan spesialis, dimulai dengan menemui dokter umum. Perawatan dari insomnia jarang melibatkan obat tidur, yang hanya dapat menutupi masalahnya.
Sebaliknya, ini biasanya difokuskan pada pendidikan seputar tidur dan terapi untuk mengurangi kecemasan seputar tidur dan perlahan-lahan meningkatkan jam istirahat dalam jangka waktu yang lama.
Editor: Aspian Nur