Hal itu dimungkinan terjadi karena garam terkadang ditambahkan ke parasetamol untuk membantu memecahnya dalam air.
Tim peneliti dari Rumah Sakit Xiangya, Central South University, Changsha, China, melihat data kesehatan dari 300.000 orang Inggris berusia antara 60 dan 90 tahun.
Mereka telah diberi resep garam yang mengandung parasetamol atau parasetamol yang tidak mengandung garam dalam bentuk tablet, kapsul atau cair.
Pada mereka dengan tekanan darah tinggi (hipertensi), risiko serangan jantung, stroke atau gagal jantung setelah satu tahun adalah 5,6 persen pada kelompok yang meminum parasetamol mengandung garam.
Ini dibandingkan dengan 4,6 persen pada mereka dengan hipertensi yang menggunakan parasetamol yang tidak mengandung natrium, menurut temuan yang diterbitkan dalam European Heart Journal.
Di antara mereka yang tidak memiliki hipertensi, risiko penyakit kardiovaskular setelah satu tahun adalah 4,4 persen dibandingkan dengan 3,7 persen. Kematian juga lebih tinggi di antara mereka yang menggunakan parasetamol sarat garam, dengan risiko 7,3 persen dibandingkan dengan 5,9 persen.
Orangtua dan wanita lebih cenderung menggunakan obat-obatan dengan garam di dalamnya. Para ahli mengatakan beberapa orang dapat melebihi batas garam harian yang direkomendasikan (2g) dengan menggunakan pil setiap hari.
“Orang harus memperhatikan tidak hanya asupan garam dalam makanan mereka tetapi juga tidak mengabaikan asupan garam tersembunyi dari obat di lemari mereka,” kata peneliti utama Profesor Chao Zeng dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (24/2/2022) hari ini. “Kami menyarankan untuk meninjau kembali profil keamanan parasetamol effervescent dan larut,” imbuhnya.
Para ahli mengatakan orang harus diberi obat penghilang rasa sakit murah tanpa garam atau setidaknya harus disertai peringatan.
Dalam editorial terkait, dua ahli dari The George Institute for Global Health di Australia, mengatakan ada kemungkinan jutaan orang di seluruh dunia menggunakan parasetamol dan meningkatkan risiko kematian dini.
"Di Inggris saja, pada tahun 2014 ada sekitar 42 juta obat yang mengandung parasetamol yang diresepkan, dengan 200 juta bungkus lagi dijual bebas," kata mereka. “Ini setara dengan 6.300 ton parasetamol yang dijual setiap tahun di negara itu,” paparnya.
Popularitas obat yang bekerja cepat meningkat yang kemungkinan akan meningkatkan efek samping terkait.
Cara paling efektif untuk mengurangi bahaya adalah dengan memperkenalkan label peringatan di depan kemasan dan itu wajib dilakukan.
“Penelitian mengamati orang-orang yang menggunakan parasetamol effervescent dan larut dalam jangka waktu yang lebih lama. Jika Anda mengonsumsi parasetamol yang mengandung natrium sesekali untuk mengatasi sakit kepala atau serangan rasa sakit yang sangat singkat, temuan penelitian ini seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu," ungkap Direktur Medis British Heart Foundation Prof Sir Nilesh Samani.
Tim Chico, Profesor Kedokteran Kardiovaskular dan Konsultan Kehormatan Kardiolog dari University of Sheffield yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan penelitian itu dilakukan dengan baik dan masuk akal berdasarkan bukti dari penelitian lain yang membandingkan asupan garam dengan kesehatan masa depan.
Itu terjadi hanya dua minggu setelah para ahli di University of Edinburgh menemukan data, mengonsumsi parasetamol setiap hari meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke sebesar 20 persen untuk orang dengan tekanan darah tinggi.
Editor: Aspian Nur