Kalau dibandingkan dengan mereka yang mendapat waktu tujuh hingga delapan jam waktu tidur, kondisi itu jauh berbeda. Dilansir dari laman Thesun.co.uk Minggu (13/2/2022) hari ini, sebelumnya diduga kurang tidur dapat menghilangkan protein di otak yang menyebabkan demensia.
Kurang tidur berarti otak tidak memiliki cukup waktu untuk membersihkan protein beta-amiloid dengan benar. Protein tersebut membentuk endapan racun yang menempel diantara sel-sel otak dan merupakan satu dari beberapa ciri utama demensia.
"Temuan kami menjelaskan hubungan antara kekurangan tidur dan resiko demensia dan mengkonfirmasi pentingnya upaya untuk membantu orang yang lebih tua mendapatkan tidur yang cukup setiap malam," ujar penulis utama studi tersebut Rebecca Robbins.
Sementara penulis senior Charles Czesiler, kepala Divisi Gangguan Tidur dan Sirkadian mencatat studi protektif ini dan mengungkapkan kekurangan tidur pada awal ketika usia rata-rata seseorang 76 tahun, dikaitkan dengan dua kali lipat resiko kejadian demensia dan semua menyebabkan kematian selama empat sampai lima tahun ke depan.
“Data ini menambah bukti tidur penting untuk kesehatan otak dan menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang kemanjuran meningkatkan tidur dan mengobati gangguan tidur pada resiko penyakit Alzheimer yang berujung pada kematian,” ungkap Charles.
Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kemerosotan kemampuan mental seseorang. Ini adalah istilah umum, karena ada banyak jenis kondisi yang berbeda, diantaranya adalah Alzheimer - yang merupakan bentuk paling umum dari demensia.
Ini menyebabkan masalah dengan pemikiran, penalaran dan memori - karena ini adalah area di otak yang menjadi rusak oleh penyakit. Saat ini ada 944.000 orang dengan demensia di Inggris, lebih banyak dari sebelumnya dan jumlah ini diproyeksikan meningkat.
Editor: Aspian Nur