Dilansir dari laman Thesun.co.uk Jumat (4/2/2022) hari ini, varian baru yang disebut VB itu pertama kali ditemukan di Belanda sebagai bagian dari studi untuk mengumpulkan contoh atau sampel virus HIV.
Awalnya 15 sampel menunjukkan varian virulen berasal dari Belanda, dengan dua dari Uganda.
Data dari lebih dari 6.700 orang yang mengidap HIV positif kemudian menemukan 92 lainnya dengan varian tersebut dimana penelitian dilakukan oleh Institut Big Data Universitas Oxford.
Virus penyebab Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) itu sebelumnya diketahui sudah menghinggapi38 juta orang di seluruh dunia dan merenggut 33 juta nyawa. Namun saat ini berkat pengobatan modern, hasilnya sangat berbeda bagi mereka yang HIV positif.
Berkat pengobatan antiretroviral yang diberikan kepada orang-orang segera setelah mereka didiagnosis terpapar HIV, sangat sedikit orang menderita virus itu dengan serius atau stadium lanjut dan dapat berharap untuk hidup lama dan sehat.
Dr Joel Wertheim, pakar HIV di University of California, San Diego yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan tidak perlu panik meski HIV memiliki varian baru.
Mengamati munculnya HIV yang lebih ganas dan menular bukanlah krisis kesehatan masyarakat. Jangan sampai kita melupakan reaksi berlebihan dari klaim 'Super AIDS' pada tahun 2005 lalu saat peringatan keras diberikan untuk mereka yang terinfeksi HIV karena cepatnya penyebaran penyakit itu,” papar Dr Joel.
Pasien yang didiagnosis dengan VB memiliki viral load atau tingkat dalam darah antara 3,5 dan 5,5 kali lebih tinggi dan mereka juga lebih mungkin menyebarkan virus ke orang lain.
Dengan varian ini tingkat penurunan sel T yang menunjukkan kerusakan sistem kekebalan, terjadi dua kali lebih cepat.
"Sebelum penelitian ini, genetika virus HIV diketahui relevan dengan virulensi, menyiratkan evolusi varian baru dapat mengubah dampaknya terhadap kesehatan,” sebut penulis utama Dr Chris Wymant dari Universitas Oxford.
"Penemuan varian VB menunjukkan hal ini, memberikan contoh langka dari resiko yang ditimbulkan oleh evolusi virulensi virus," jelasnya
Analisis pola genetik menunjukkan VB pertama kali muncul pada akhir 1980-an dan 1990-an di Belanda, menyebar lebih cepat dari varian lain selama tahun 2000-an tetapi grafiknya menurun sejak sekitar tahun 2010.
Penulis senior Profesor Christophe Fraser, juga dari Oxford, menambahkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan hari ini di Science kalau temuan yang didapatkan menekankan pentingnya panduan untuk WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) kalau individu yang berisiko tertular HIV memiliki akses ke tes rutin untuk memungkinkan diagnosis dini, diikuti dengan pemeriksaan cepat.
“Harus cepat ditangani agar bisa membatasi HIV merusak sistem kekebalan seseorang dan membahayakan kesehatan mereka. Ini juga memastikan HIV ditekan secepat mungkin, yang mencegah penularan ke orang lain," jelas Profesor Christophe.
HIV dapat dibagi menjadi dua jenis utama yaitu HIV-1 dan HIV-2. Yang pertama lebih ganas.
Virus itu ditularkan dari orang ke orang dengan cara yang sama, seperti seks tanpa kondom dan berbagi jarum suntik.
Para peneliti percaya VB muncul terlepas dari pengobatan yang meluas - bukan karena itu, tetapi obat yang sangat efektif dapat menekan penularan.
Untuk pasien dengan VB, saat mereka memulai pengobatan, pemulihan sistem kekebalan dan tingkat kelangsungan hidup langsung terjadi.
Tetapi para peneliti menekankan VB memang menyebabkan penurunan kekuatan sistem kekebalan yang lebih cepat. Hal ini membuat seseorang yang kritis didiagnosis lebih awal harus memulai terapi sesegera mungkin.
“Penting untuk mengatakan para peneliti percaya varian pertama muncul pada 1980-an dan 90-an, telah menurun selama dekade terakhir dan menanggapi pengobatan HIV dengan cara yang mirip dengan HIV lainnya. Varian baru bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pesan yang ada yaitu pentingnya tes HIV secara rutin, sehingga mereka yang terdiagnosis dini dapat mengakses pengobatan sesegera mungkin,” papar Dr Michael Brady, Direktur Medis di Terrence Higgins Trust.
“Pengobatan dini berarti orang yang hidup dengan HIV memiliki hidup yang panjang dan sehat dan tidak ada resiko menularkan virus ke pasangannya, apa pun varian HIV yang ada. Ini adalah pengingat yang tepat waktu tentang pentingnya membuat tes HIV secepat dan semudah mungkin,” pungkas Dr Michael.
Editor: Aspian Nur