Presiden Yasuhiro Tsukamoto dari Universitas Prefektur Kyoto mengembangkan penelitian terkait masker baru ini.
Kehadiran Covid dalam napas yang dihembuskan diklaim dapat dideteksi dengan menyinari lampu neon pada masker yang digunakan untuk mengungkap bercak-bercak virus.
Para peneliti mengatakan lampu LED dari smartphone juga dapat digunakan sebagai sumber cahaya untuk memperluas jumlah orang yang dapat menggunakan inovasi tersebut.
Diketahui burung unta mampu menghasilkan antibodi berbeda yang menetralisir benda asing di dalam tubuh mereka.
Antibodi ini diekstraksi dari telur burung unta sehingga membuat virus corona menjadi tidak aktif dan tidak mengancam.
Dengan menyemprotkan antibodi pada filter dari masker yang dipakai, reaksinya bisa mendeteksi apakah ada Covid-19.
Presiden Tsukamoto dan kelompoknya bereksperimen selama sepuluh hari dengan 32 pasien Covid-19 dan menemukan masker yang mereka kenakan bersinar di bawah sinar UV.
"Antibodi burung unta untuk korona yang ditempatkan pada filter mulut masker menangkap virus corona saat batuk, bersin, dan air. Selanjutnya, antibodi burung unta berlabel pewarna fluoresen direaksikan dan virus divisualisasikan dengan penyinaran dengan cahaya,” kata Tsukamoto dilansir dari laman Thesun.co.uk Sabtu (11/12/2021) hari ini.
“Kami juga berhasil memvisualisasikan antigen virus pada filter pembawa antibodi burung unta saat menggunakan lampu hitam ultraviolet LED dan lampu LED smartphone sebagai sumber cahaya. Itu membuatnya mudah digunakan pada masker bahkan di rumah,” jelasnya.
"Keberadaan virus juga dapat dikonfirmasi dari masker pembawa antibodi burung unta yang digunakan oleh orang yang terinfeksi virus corona baru selama delapan jam," kata Tsukamoto lagi.
Sebuah aplikasi paten telah diajukan untuk teknologi ini dan ada rencana untuk mengkomersialkan masker baru itu kemudian menjualnya di Jepang dan luar negeri tahun depan.
Editor: Aspian Nur