Menggunakan sukarelawan beberapa siswa yang diteliti selama 14 hari, para peneliti menemukan semakin sedikit tidur yang didapat siswa (rata-rata, enam jam semalam), mereka kurang kontrol dan itu terlihat saat berjalan diatas alat olahraga treadmill. Untuk siswa yang tidak bisa tidur sama sekali, kontrol berjalannya justru anjlok.
Namun, siswa yang tidur 'kurang ideal' selama seminggu, tetapi bisa tidur di akhir pekan memiliki kinerja yang lebih baik daripada mereka yang mendapatkan tidur ekstra. "Secara ilmiah, tidak jelas aktivitas yang hampir otomatis seperti berjalan akan dipengaruhi oleh kurang tidur," kata seorang penulis studi, Hermano Krebs, dalam sebuah pernyataan.
“Kami juga menemukan data kompensasi untuk tidur bisa menjadi strategi penting. Misalnya, bagi mereka yang kurang tidur kronis, seperti pekerja shift, dokter dan beberapa personel militer, jika mereka membangun kompensasi tidur yang teratur, mereka mungkin memiliki kontrol yang lebih baik untuk gaya berjalan mereka,” sebutnya.
Berjalan sebenarnya membutuhkan sedikit lebih banyak keterlibatan otak daripada yang diperkirakan sebelumnya, karena para peneliti telah mengidentifikasi gaya berjalan orang dan mekanisme berjalan dalam upaya membantu menciptakan robot untuk pasien stroke atau orang lain yang menderita masalah yang melemahkan dalam hal tersebut.
“Hasil studi kami menunjukkan kurang tidur sebagian atau total menyebabkan penurunan kinerja dalam kontrol sensorimotor gaya berjalan,” tulis para peneliti dalam penelitian tersebut. “Kinerja superior dari kelompok tidur kronis bila dibandingkan dengan kelompok akut menunjukkan ada mekanisme kompensasi yang membantu meningkatkan kinerja motorik,” paparnya.
Krebs yang telah melakukan penelitian sebelumnya tentang topik tersebut, menemukan data subjek 'sehat' untuk sedikit mengubah gaya berjalan mereka tanpa menyadari mereka melakukannya hanya dengan melihatnya. Ini menunjukkan bahwa ada beberapa tingkat pengaruh sadar. “Ada banyak pengaruh yang datang dari otak,” jelasnya.
Krebs dan penulis utama Arturo Forner-Cordero menganalisis mahasiswa dari Universitas São Paulo selama 14 hari dan menemukan mereka tidur rata-rata sekitar enam jam per malam. Pada malam hari sebelum hari ke-14, satu kelompok terjaga sepanjang malam.
Ketika para peneliti memasukkan semua kelompok ke lab, mereka disuruh berjalan di atas treadmill dengan kecepatan yang sama dengan metronom yang diputar di latar belakang dan para siswa diminta untuk mengikuti, sedikit menaikkan dan mengubah kecepatan. "Mereka harus menyelaraskan gerakan tumit mereka dengan irama dan kami menemukan kesalahan lebih besar pada orang dengan kurang tidur akut," kata Forner-Cordero.
“Hasilnya menunjukkan gaya berjalan bukanlah proses otomatis dan dapat dipengaruhi oleh kurang tidur,” jelasnya.
Mereka juga menyarankan strategi untuk mengurangi efek kurang tidur. Idealnya, setiap orang harus tidur delapan jam semalam. Tapi jika kita tidak bisa, maka kita harus memberikan kompensasi sebanyak dan sesering mungkin.
Editor: Aspian Nur