Hal ini diungkapkan Amit Agrawal, peneliti dari Indian Institute of Technology Bombay, India, yang menulis buku Physics of Fluids.
Menurut Agrawal, seseorang bisa disebut aman dari penyebaran virus atau kuman dalam cuaca berangin kalau berada di kejauhan lebih dari tujuh kaki.
“Dengan kondisi tersebut, mereka yang batuk terutama yang terpapar virus Covid-19 dan tak mengenakan masker bisa dengan cepat menularkan ke mereka yang ada di dekatnya,” papar Agrawal.
Karena itu dirinya mengingatkan siapa saja yang berada di luar dalam kondisi cuaca angina berhembus kencang harus waspada, terlebih menurutnya saat ini masker tidak lagi menjadi persyaratan hukum saat bepergian dan batuk saat angin berhembus kencang bisa menulari orang yang berdiri melawan arah angina tersebut.
“Studi ini penting karena menunjukkan peningkatan resiko infeksi yang dapat ditimbulkan oleh batuk ke arah yang sama dengan angin,” kata Agrawal dilansir dari laman Thesun.co.uk Rabu (13/10/2021) hari ini.
"Karena itu berdasarkan hasil penelitian, kami merekomendasikan memakai masker di luar ruangan, terutama dalam kondisi berangin," tegasnya.
Agrawal juga meminta mereka yang batuk untuk menutupnya dengan siku atau memalingkan wajah untuk mengurangi penularan virus.
"Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti peningkatan kemungkinan infeksi dari angin sepoi-sepoi sekalipun," papar Agrawal.
Itu terjadi ketika 'dingin terburuk yang pernah ada' telah melanda ribuan orang Inggris dalam beberapa minggu terakhir - dengan banyak yang mengatakan mereka berjuang untuk menghilangkan serangga itu.
Diketahui saat ini di negara Eropa setelah pemberlakuan lockdown dan social distancing selama pandemic Covid-19, pilek dan flu mulai berkurang.
Namun setelah longgarnya peraturan tersebut dengan banyaknya masyarakat yang keluar rumah, batuk, pilek dan flu kembali meningkat.
Lewat media social Facebook, Twitter dan TikTok, banyak netizen yang bercerita bagaimana mereka sakit selama berminggu-minggu.
Semakin banyak yang terserang penyakit jahat itu, membutuhkan waktu berhari-hari untuk memulihkannya.
Rasa dingin di dalam tubuh membuat kekebalan yang telah dibangun kembali mudah ditembus virus.
Editor: Aspian Nur