"Minum minuman dengan pemanis buatan dapat mengelabui otak agar merasa lapar, yang pada gilirannya dapat menghasilkan lebih banyak kalori yang dikonsumsi," papar Profesor Kathleen Page, peneliti kesehatan dilansir dari laman kesehatan Thesun.co.uk.
Namun Gavin Partington, direktur British Soft Drinks Association, mengatakan penelitian ini harus lebih dikaji mendalam mengingat hanya sedikit sampel jumlah peserta yang didapatkan.
“Pemanis non-gula aman menurut semua otoritas kesehatan terkemuka di dunia, itulah sebabnya bahan itu digunakan dalam beragam produk makanan, obat-obatan, gigi dan minuman. Penggunaannya memungkinkan produsen minuman ringan untuk mengurangi gula yang dibawa pulang dari minuman ringan sebesar 43,5 persen antara Maret 2014 dan Maret 2020,” papar Gavin.
Semenara seorang juru bicara Asosiasi Pemanis Internasional hasil penelitian ini sangat kontras dengan temuan uji klinis jangka panjang yang menunjukkan konsumsi sukralosa, menyebabkan penurunan asupan makanan dan penurunan berat badan setelah periode tiga bulan.
“Obesitas, diabetes dan penyakit gigi tetap menjadi tantangan kesehatan global utama dan mengingat rekomendasi kesehatan masyarakat untuk mengurangi asupan gula, pemanis rendah kalori dapat membantu menciptakan lingkungan makanan yang lebih sehat,” katanya.
Sucralose, juga dikenal sebagai Splenda, 600 kali lebih manis dari gula dan bebas kalori. Banyak orang menggunakannya untuk menurunkan berat badan tetapi telah dikaitkan dengan diabetes tipe 2, tambah Prof Page yang berbasis di Los Angeles.
Hanya saja penelitian lain menjelaskan, penggunaannya membahayakan bakteri di dalam usus. Minum minuman yang dimaniskan secara artifisial bisa meningkatkan resiko kematian muda, dengan konsumen yang lebih mungkin meninggal karena penyakit jantung, para peneliti menemukan.
Para ahli di Universitas Zhengzhou di China melacak 1,2 juta orang dewasa selama lebih dari 20 tahun untuk mempelajari lebih lanjut tentang konsumsi minuman ringan mereka.
Editor: Aspian Nur