Namun yang terjadi justru fatal. Hanya beberapa jam setelahnya, si pemuda yang tak disebutkan namanya itu langsung pergi ke Rumah Sakit Chaoyang di Beijing karena merasakan sakit luar biasa dan perutnya membuncit karena mengalami pembengkakan di dalam tubuhnya.
Hanya 18 jam menjalani perawatan, si pemuda dinyatakan pihak rumah sakit meninggal dunia.
Pro kontra pun bermunculan, ada dokter yang mengatakan gas menumpuk di dalam ususnya sebelum bocor ke bagian lain dari tubuhnya yang berakhir dengan kematian, sementara yang lain menyebut minuman bersoda tidak menimbulkan resiko besar bagi kesehatan.
Dilansir dari laman Dailymail.co.uk, petugas medis mengatakan konsumsi cepat minuman bersoda yang dilakukan pemuda itu menyebabkan penumpukan gas yang fatal di dalam tubuhnya, yang membuat hatinya kekurangan oksigen dan akhirnya membunuhnya.
Dokter dan para ahli kesehatan pun langsung melakukan penelitian mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Menurut dokter dari Clinics and Research in Hepatology and Gastroenterology, menenggak minuman bersoda begitu cepat menyebabkan gas berkumpul di ususnya, yang karena tekanan itu kemudian bocor ke vena portalnya, salah satu pembuluh darah utama hati, menyebabkan kerusakan fatal.
Tes yang dilakukan pada pria tersebut saat pertama kali diperiksa oleh dokter menunjukkan beberapa tanda yang mengkhawatirkan.
Pria itu yang tidak dianggap memiliki masalah kesehatan mendasar, memiliki detak jantung yang meningkat, tekanan darah rendah dan bernapas lebih cepat.
CT scan menunjukkan si pemuda menderita pneumatosis, adanya gas yang tidak normal di dinding ususnya dan vena portalnya.
Terungkap pula kalau si pemuda menderita iskemia hati atau shock liver, sejenis cedera yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang rendah ke organ, yang menurut dokter terkait dengan adanya gas di vena portal.
Dia juga diberi obat untuk membantu melindungi hatinya dan mencoba menstabilkan fungsi tubuhnya yang lain dari kerusakan lebih lanjut.
Setelah 12 jam, tes darah menunjukkan pria itu mengalami kerusakan hati yang serius. Kondisinya semakin memburuk dan dia meninggal 18 jam setelah perawatan.
Seorang ahli Inggris hari ini mempertanyakan penyebab sebenarnya dari kematian tersebut dan menegaskan tidak mungkin menenggak 1,5 liter minuman bersoda jadi penyebab kematian.
‘Kemungkinan menenggak 1,5 liter, atau sedikit lebih dari tiga liter minuman ringan biasa menjadi fatal sangat tidak mungkin,” tegas Profesor Nathan Davies, seorang ahli biokimia di University College London.
Diperlukan penelitian lebih lanjut menurutnya untuk menarik kesimpulan tegas tentang kematian si pemuda karena minuman bersoda.
Profesor Davies berspekulasi infeksi bakteri, penyebab yang diketahui dari penumpukan gas secara internal, jadi penyebab utama kematian tersebut.
Bakteri itu dapat membentuk kantong gas, menyebabkan masalah yang mirip dengan yang apa yang dialami si pemuda sebelum kematiannya.
"Biasanya jenis kondisi ini disebabkan karena ada bakteri yang telah berpindah dari saluran pencernaan normal ke suatu tempat yang tidak seharusnya, dalam hal ini, di lapisan usus kecil," ungkap Profesor Davies.
Gas yang diproduksi di usus kemudian dapat bocor ke area tubuh lain yang terhubung, seperti vena portal.
"Tetapi tanpa kondisi yang mendasarinya, sangat sulit untuk melihat apa yang bisa terjadi," paparnya.
Vena portal membawa bahan dari usus untuk diproses oleh hati, berbeda dengan pembuluh darah yang berbeda, arteri hepatik, yang membawa oksigen ke organ. "Jika Anda memiliki bakteri yang mendasari disana, atau kondisi lain, itu berpotensi memproduksi racun mereka sendiri yang akan merusak fungsi normal organ," ungkapnya.
Karena itu Profesor Davies mengatakan tidak ada alasan mengatakan mengonsumsi minuman bersoda dengan cara yang sama seperti yang dilakukan pemuda itu dapat berakibat fatal.
Hanya saja Profesor Davies menjelaskan kalau konsumsi minuman bersoda akan berdampak pada jangka panjang. “Tidak baik untuk gigi Anda, itu kuncinya, minuman ringan dalam jumlah yang sangat besar dapat mempengaruhi mineralisasi tulang,' sebutnya.
“Beberapa minuman ringan sehari tidak memiliki konsekuensi kesehatan selain jumlah gula yang Anda konsumsi,” jelas Profesor Davies.
Editor: Aspian Nur