Seorang pasien lain, Liam (23), kehilangan 70-80 persen fungsi pendengaran di telinga kirinya setelah terinfeksi Covid-19. Pada Juni lalu, Liam mengalami demam, sakit kepala, dan kelelahan selama berminggu-minggu. Setelah membaik, Liam tiba-tiba kehilangan pendengaran dan menderita tinitus atau telinga yang berdenging.
Sebagaimana diketahui, virus seperti campak, gondok, dan meningitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran mendadak. Beberapa bukti dari penelitian kecil telah memperlihatkan SARS-CoV-2 telah mengganggu fungsi pendengaran. "Kami semakin sering mendengar bahwa orang mengalami gangguan pendengaran akibat Covid-19," ujar dokter spesialis pendengaran dari John Hopkins Medicine, Matthew Stewart
Tak ada statistik tentang seberapa umum gangguan pendengaran terjadi pada pasien Covid-19. Namun, beberapa penelitian kecil telah menunjukkan adanya kemungkinan tersebut. Sebuah tim peneliti di Manchester, Inggris, bertanya pada pasien Covid-19 delapan pekan setelah mereka keluar dari rumah sakit tentang gangguan pendengaran tersebut. Dari 138 pasien dalam penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Audiology tersebut, sebanyak 13 persen mengaku mengalami gangguan pendengaran.
Namun, dokter tak dapat memastikan apakah virus bisa menyerang telinga bagian dalam atau tidak. Melakukan biopsi pada telinga bagian dalam berisiko merusak keseluruhan jaringan.
Stewart dan tim melakukan prosedur pada tubuh tiga pasien yang telah meninggal dunia akibat Covid-19 untuk melihat kemungkinan tersebut. Hasilnya, virus SARS-CoV-2 ditemukan berada pada telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak, yang terdapat tepat di belakang telinga. Studi dipublikasikan dalam jurnal JAMA Otolaryngology-Head and Neck Surgery. "Secara pribadi saya curiga bahwa [SARS-CoV-2] mengganggu indera pendengaran," ujar Stewart. Salah satu alasannya adalah karena virus corona diketahui dapat menyebabkan pembekuan pembuluh darah. Dia menduga pembekuan tersebut bisa terjadi di pembuluh darah yang sangat kecil yang berada di telinga bagian dalam.
Ilmuwan pendengaran lain, Kevin Munro mengatakan bahwa hipotesa tersebut sangat masuk akal. "Pembuluh darah kapiler di telinga bagian dalam adalah yang terkecil di tubuh manusia. Jadi, tak perlu banyak waktu untuk memblokirnya," ujar dia. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di cnnindonesia.com hari Senin 12 Oktober 2020 dengan judul Infeksi Virus Corona Diduga Mengganggu Indera Pendengaran