Dafsah mengatakan, pencegahan jauh lebih baik ketimbang menunggu hingga penyakit itu telanjur datang. Sebab, ada fatalitas yang harus dihindari.
"Jangan tunggu serangan dulu baru kita urus, karena kalau sudah kena serangan jantung, urusannya sama waktu. Kalau tidak cepat ditangani, ototnya semakin rusak."
Jika merasa terkena serangan jantung, segeralah pergi ke Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan penanganan dari dokter. Menangani secepat mungkin perlu dilakukan agar otot jantung yang rusak tidak bertambah banyak.
Tindakan dari dokter dilakukan untuk membatasi kerusakan fungsi jantung. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari 17 juta orang di dunia yang meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, di Indonesia ada sekitar 2,7 juta individu yang menderita penyakit jantung atau 15 dari 1000 orang. Heartology Cardiovascular Center di Brawijaya Hospital, Saharjo, Jakarta adalah salah satu fasilitas layanan yang fokusnya pada diagnostik, intervensi, bedah jantung dan pembuluh darah serta aritmia.
Tersedia ruangan operasi hybrid yang memungkinkan bedah minimal invasif dan konvensional di tempat yang sama, juga HD Grid 3D Mapping System untuk aritmia yang punya presisi dan akurasi tinggi untuk tindakan kateter ablasi.
"Perpaduan tim dokter dan teknologi akan memberikan hasil klinis lebih baik, opsi penanganan jantung sesuai kebutuhan pasien, efektivitas biaya, dan pemulihan lebih cepat," kata dokter yang menjadi Consultant Cardiologist Cardiovascular Intensivist & Interventional Cardiologist.
Editor : Bambang Irawan
Berita ini sudah tayang di republika.co.id hari Sabtu 3 Oktober 2020 dengan judul : Sudah Usia Kepala Tiga, Ayo Periksakan Jantung