Dilansir dari football5star.com, Sanjay Sharma, profesor penyakit jantung dan kardiologi dari Universitas St George London mengungkapkan bahwa 1 dari 14.700 orang meninggal dunia karena serangan jantung. Angka ini lebih tinggi dari penelitian sebelumnya yang menyebutkan 1 dari 200.000 orang meninggal dunia karena serangan jantung.
Artinya serangan jantung tak mengenal profesi, entah ia pesepak bola profesional ataupun bukan.
Khusus untuk pesepak bola profesional yang menghabiskan berjam-jam dengan berolahraga, kondisinya malah cukup rentan. Kondisi ini mendorong otot pada jantung semakin padat dan menonjol.
Owen Anderson dalam artikel berjudul: Heart Attack Risks Are Greater for Athletes Who compete In Endurance Sports mengungkapkan pesepak bola sangat rentan terkena masalah jantung seperti atlet dari olahraga ketahanan tubuh, balap sepeda atau marathon. Hal ini disebabkan pesepak bola rata-rata harus menempuh jarak lari sebanyak 9-12 km per pertandingan, itu belum dihitung dengan latihan rutin. Akibatnya kandungan enzim cardiac troponinyang terkandung pada jantung jumlahnya menjadi lebih tinggi.
Pada orang yang terkena masalah jantung, kadar troponin dalam darah mereka biasanya naik dalam waktu 6-12 jam. Level troponin pun kemungkinan akan tetap tinggi selama 1-2 minggu setelah serangan jantung terjadi. Troponin adalah molekul protein yang merupakan bagian dari otot rangka dan otot jantung.
Khusus untuk kasus Iker Casillas misalnya, jika ia tengah melakukan latihan rutin, produksi enzim dalam jantungnya akan meningkat. Yang cukup mengerikan, gejala serangan jantung memang sulit dideteksi, namun biasanya muncul ciri-ciri yang cukup khas. Seperti nyeri di bagian dada, rasa tidak nyaman di bagian leher, lengan kiri, bahu, rahang, hingga punggung. Sesak napas, pusing serta mual juga menjadi ciri saat seseorang terkena serangan jantung. (*)