Pemain yang mengunggah cuitan pada malam hari sebelum pertandingan, mencetak poin lebih sedikit dibandingkan yang lain. Orang yang getol bermain Twitter malam hari kerap melakukan pelanggaran dalam pertandingan.
Namun, hasil ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Pasalnya, peneliti tak memeriksa faktor-faktor lain seperti stres yang dirasakan para pemain. Kendati demikian, ahli sosiologi dari Stony Brook University, Jason J Jones, melihat bahwa penelitian tersebut dapat digeneralisir dengan menggarisbawahi pentingnya tidur di malam hari. “Cara terbaik untuk memperbaiki kinerja di hari esok adalah dengan tidur berkualitas,” ujar Jones.
Berusaha mematikan ponsel di malam hari, kata Jones, adalah perkara keseimbangan. Sebelumnya, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Academy of Sleep Medicine, menemukan hal serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insomnia memberikan dampak besar terhadap produktivitas kerja.
Mengutip Medical Express, peneliti menemukan, mereka dengan insomnia mengalami penurunan produktivitas hingga 107 persen. Sementara mereka yang mengalami insomnia ringan mengalami penurunan produktivitas sebanyak 58 persen.
Banyak orang mengaitkan kurangnya waktu tidur dengan tingkat produktivitas yang tinggi.
“Banyak orang percaya bahwa untuk menyelesaikan lebih banyak hal, mereka perlu mengorbankan tidur,” ujar peneliti dari University of Arizona, Michael Grandner.
Hal ini didorong oleh hipotesa bahwa orang-orang yang mengalami insomnia dapat menggunakan waktu malam harinya untuk mengerjakan berbagai hal agar lebih produktif. Namun, fakta tidak berkata demikian.
Studi itu juga menunjukkan, mereka yang tidur teratur selama 7-8 jam dapat mempertahankan produktivitasnya. Sementara mereka yang hanya tidur 5-6 jam bakal mengalami penurunan produktivitas sebanyak 19 persen. (cnc)