Penelitian ini melibatkan 249 pasien rawat jalan dari tiga klinik gagal jantung pada tahun 2017. Sebanyak 227 pasien (91%) berpuasa selama bulan Ramadan. Di antara mereka, 209 pasien (92%) gejala membaik, sedangkan gejala memburuk pada 18 pasien (8%). Gejala gagal jantung meliputi sesak napas, pembengkakan pergelangan kaki, dan kelelahan.
“Pasien gagal jantung yang tidak mengikuti rekomendasi cairan dan garam selama berpuasa Ramadan makin buruk gejalanya. Apalagi ketika mereka dikunjungi teman-teman yang banyak bawa makanan. Kandungan garam normal atau tinggi dan minum banyak cairan dalam waktu singkat dapat menyebabkan pergeseran cairan dalam tubuh,” kata ahli jantung Rami Abazid, dikutip dari Medical Xpress, Jumat (25/5) kemarin.
Menyoal ketidakpatuhan minum obat-obatan, beberapa pasien ternyata berhenti atau mengurangi penggunaan obat diuretik--mengatasi masalah air kencing pada gagal jantung, gagal ginjal, dan sirosis hati. Ini karena mereka takut haus selama berjam-jam puasa.
Obat-obatan yang harus diminum dua kali sehari malah dikurangi satu dosis. “Puasa Ramadan aman untuk kebanyakan pasien dengan gagal jantung kronis. Saran saya adalah mematuhi pembatasan cairan dan garam. Selain itu, tidak menghilangkan dosis obat. Tetap minum obat, tapi pada jam-jam setelah buka puasa (malam hari),” jelas Abazid. (lic)