Di bulan puasa, penggunaan siwak pun kemudian dianjurkan, baik sebagai alat menjaga kesehatan dan kebersihan gigi, maupun sebagai sarana mendekatkan diri pada sunnah nabi. Ungkapan ini disampaikan Syifa Fauzia, Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim. Ia mengatakan siwak telah digunakan di kalangan umat Islam sejak Nabi Muhammad SAW, dan beberapa hadits pun menyebut manfaat siwak dalam menjaga kebersihan gigi. “Kebersihan mulut itu hal yang penting terutama dalam berinteraksi. (Bersiwak) perpaduan mendekatkan diri dengan hadits nabi dan kebersihan diri,” ujarnya.
Di Indonesia, siwak masih terdengar begitu asing. Siwak berasal dari pohon ara atau memiliki nama Latin Salvadore persica. Tanaman ini tersebar di sekitar wilayah Timur Tengah termasuk Mekkah dan Madinah sehingga ia kerap dijadikan oleh-oleh orang yang menunaikan ibadah haji atau umroh.
Siwak dapat digunakan secara langsung layaknya sikat gigi. Berbentuk batang kayu kecil, ujung siwak dapat dibentuk menyerupai serabut kemudian digosokkan pada gigi. Jika dibayangkan mungkin orang khawatir sebab siwak yang berupa serat kayu digosokkan langsung ke gigi, tetapi siwak tidak merusak gigi. “Siwak itu seratnya halus, tidak abrasif (bersifat mengikis). Sifat abrasif sebenarnya ada tapi kita menyesuaikan, jangan seperti mengamplas,” imbuhnya. (cnc)