Ya. Namanya lebaran ketupat. Tradisi ini juga masih dilakukan sebagian warga perantauan asal Jawa yang ada di Samarinda. Imbasnya, permintaan terhadap ketupat juga mengalami peningkatan. Pada Rabu (26/4/2023), korankaltim.com berkunjung ke Kampung Ketupat di Jalan Mangkupalas, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang.
Salah seorang pengrajin ketupat, Mama Adli mengatakan, permintaan ketupat menjelang lebaran ketupat tetap ada, meski tak sebanyak hari raya Idulfitri yang baru lalu, karena hanya sebagian masyarakat yang merayakannya.
Dia pun sebagai salah seorang pengrajin sekaligus pengepul di kampung ketupat itu sedikit kewalahan untuk bisa memenuhi permintaan pasar. Biasanya kata Mama Adli, ketupat hasil olahannya dijual ke sejumlah tempat, seperti Pasar Sungai Dama, Ijabah dan Kedondong.
Untuk ketupat ukuran besar biasanya dijual Rp50 ribu per 100 biji, sedangkan yang ukuran kecil Rp25 ribu per 100 biji. “Pas mau hari raya kemarin, harganya di pasar sempat naik sedikit, karena permintaan memang banyak,” kata Mama Adli, generasi kedua dikeluarganya yang menekuni kerajinan membuat ketupat ini.
Menjelang lebaran ketupat kali ini, dirinya dan sejumlah ibu-ibu disekitar rumahnya yang mengambil upahan membuat ketupat dirumahnya hanya menganyam seadanya, lantaran stok bahan baku daun nipah yang digunakan untuk membuat ketupat tersebut sudah menipis.
Pasalnya, hingga beberapa hari pasca lebaran Idulfitri, belum ada penjual daun yang masuk ke hutan untuk mengambil bahan baku yang lokasinya di sekitaran Muara Berau. Biasanya, daun nipah yang diangkut menggunakan perahu dari muara ke kampung ketupat tersebut jelasnya dijual seharga Rp35 ribu per ikat. Ada sekitar 5 pengepul yang siap membeli daun nipah tersebut untuk diolah ketupat.
Dia juga menjelaskan, bagi ibu-ibu disekitar rumahnya yang mengambil upahan membuat ketupat akan diberi imbalan Rp12 ribu per 100 biji ketupat ukuran besar dan Rp8 ribu per 100 biji ketupat ukuran kecil.
“Suami saya kalau sekali antar ketupat ke pasar itu bisa lebih seribu biji. Tapi ada juga warung Soto Banjar di Jalan Arif Rahman Hakim itu yang langsung order ke kami. Harganya pasti lebih murah dibanding di pasar, malah diantar ditempat lagi,” ujar Mama Adli dengan logat Bahasa Banjarnya yang kentara.
Editor: Maruly Zainuddin