"Kalau di Kalimantan Timur sekitar 5.000 kendaraan didaftarkan. Paling tinggi di Kalimantan Selatan, sekitar 15 ribu kendaraan karena memang awal mula sosialisasi di sana," kata Satria kepada Korankaltim.com, Jumat (9/9/2022).
Dirinya menjelaskan pendaftaran Subsidi Tepat bisa dilakukan pada aplikasi MyPertamina maupun laman subsiditepat.mypertamina.id. "Kalau orang bilang pendaftaran melalui MyPertamina, itu sebenarnya merujuk kepada Subsidi Tepat," sebutnya.
Tujuan dari pendaftaran tersebut agar penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi baik Solar maupun Pertalite benar-benar tepat sasaran. Kendati khusus penyaluran Pertalite masih menunggu revisi peraturan presiden.
"Kami masih menunggu perpres revisi. Siapa yang boleh dan tidak untuk pakai Pertalite. Nanti bisa dimasukkan ke fitur untuk menjadi indikator, mana (kendaraan) yang boleh, mana yang tidak boleh," ujarnya.
Tak cuma itu, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah mulai melakukan pendataan nomor polisi atau pelat kendaraan secara digital. Sedangkan SPBU yang masih menunggu pengembangan piranti melakukan pendataan secara manual.
"Yang pasti, dalam waktu tak lama lagi diterapkan, karena lebih cepat kita lakukan, kita lebih tahu konsumen yang pakai Pertalite dan Solar. Datanya ada, subsidi kelihatan tepat atau tidak," lanjutnya.
KENDARAAN DIVERIFIKASI
Pendaftar Subsidi Tepat selain mengisi data diri, juga diharuskan mencantumkan jenis kendaraan, volume ruang silinder atau CC kendaraan dan tahun pembuatan. Termasuk Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) bermotor.
"Kalau kendaraanya tidak lolos verifikasi, ya tidak dapat membeli BBM bersubsidi. KTP dan data pemilik kendaraan pada STNK berbeda, tidak masalah," ucapnya.
Nantinya pendaftar Subsidi Tepat akan mendapatkan barcode atau kode batang pada aplikasi atau pun laman. Barcode ditunjukan kepada petugas SPBU untuk dipindai ketika hendak membeli BBM bersubsidi.
"Kalau tidak punya aplikasi MyPertamina dan daftarnya lewat website (laman), barcode-nya bisa dicetak, kemudian dilaminating. Tunjukkan ke petugas SPBU," terangnya.
"Tetap bisa pakai tunai. Kalau tidak punya aplikasi, ya tidak apa-apa, kan ketika daftar dan punya barcode, saya laminating terus bawa ke SPBU. Tunjukkan aja petugas, dicek sama kendaraannya, langsung diisi," jelas Satria lagi.
Pertamina Patra Niaga telah mendapat arahan dari pusat agar program Subsidi Tepat sudah dapat berjalan sebelum 2022 berakhir. Kendati persoalan jaringan turut menjadi kendala khususnya di kawasan pelosok.
"Yang penting ketika kendaraan sudah terdaftar, sudah bisa diverifikasi. Kalau dari sisi kendala ketika melakukan pendaftaran masih ada yang ngelag, itu saja lebih ke jaringan. Tantangan terbesar bagaimana orang itu sadar bahwa pemakaian BBM bersubsidi sudah ada kriterianya," pungkas Satria.
Penulis: Hendra
Editor: Maruly Zainuddin