Kemudian 57,41 persen mengalami kejenuhan secara umum. Penelitian lain menunjukan, 80 persen responden mengalami gejala stres ringan hingga berat. Mulai dari gejala fisiologis berupa otot tegang hingga sulit tidur dan gejala psikologis seperti cemas, mudah marah dan nafsu makan menurun.
Berdasarkan kelompok usia, 83 persen merupakan jomblo dan 82 persen merupakan duda atau janda. Yang berstatus menikah kecederungannya lebih sedikit, yakni sebesar 78 persen, hal ini mengingat yang berstatus menikah bisa mencurahkan keluhannya kepada pasangan.
"Penyebab stress lainnya, jumlah responden mengkhawatirkan keberlangsungan perusahaan di kemudian hari. Dari perusahaan lainnya, termasuk media, kecenderungannya sebesar 7 persen," kata Visnu.
Melihat curva stress yang ditunjukannya, ada fase stres yang menurutnya sangat berbahaya jika tidak tertanggulangi dengan baik. Disebut fase breakdown, beragam ekspresi menunjukan stress bisa berakibat fatal, hingga menghilangkan nyawa sendiri maupun orang lain.
Visnu pun membagi tips agar para peserta diskusi ini dapat memanajemeni stress dengan baik. Stress, kata dia, dapat dipersepsikan menjadi dua hal. Sebagai ancaman ataupun peluang. Jika dilihat sebagai ancaman, maka pengidap stress hendaknya merubah persepsi stress sebagai peluang.
"Bisa dilakukan dengan positif self talk, mencari bantuan, dan mengingat kekuatan anda. Mencari sisi positif dari hal yang paling negatif sekalipun," tuturnya.
Jika dipersepsikan sebagai peluang, bila mana pengidap stress dapat merubah keadaannya, maka strategi penyesuaiannya berfokus pada penyelesaian masalah.
"Jika tidak, strategi penyesuaiannya berfokus pada emosi. Mindfullness, menangis, menikmati musik atau film, tidur, traveling bahkan kulineran," imbuhnya lagi.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: bambang irawan