Seperti yang sedang terjadi, pada pekan pertama September 2020. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) UMKM Kaltim mencatat, terjadi kenaikan harga Cabai Keriting di 3 pasar pantau di Kota Samarinda, mencapai lebih dari 40 persen pada perdagangan Jumat (4/9/2020).
Dari laporan yang diterima Korankaltim.com, Jumat siang, pada 3 pasar pantau di Kota Samarinda yakni Pasar Segiri, Pasar Sungai Dama dan Pasar Kedondong, rata-rata terjadi kenaikan harga Cabai Keriting berkisar Rp10.303, dibanding harga pada perdagangan hari Kamis 3 September yang hanya Rp24.667 menjadi Rp35.000 per kilogram.
Artinya, ada kenaikan hingga 41,89 persen. Dan benar saja, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop UMKM Kaltim Heni Purwaningsih mengakui, jika kenaikan harga disebabkan pasokan yang berkurang.
"Dari pantauan kami, memang harga Cabai mengalami kenaikan. Dan ini terjadi di seluruh kabupaten/kota di Kaltim, berdasarkan info Tim Monitoring Harga," ujar Heni kepada Korankaltim.com, Jumat siang.
Selama ini, lanjut dia pasokan Cabai Kaltim sebagian besar didatangkan dari Sulawesi Selatan. Sementara saat ini, pasokan dari Sulawesi Selatan terkendala produksi dan juga cuaca.
"Tapi secara nasional, harga Cabai memang mengalami kenaikan. Selisih harga Cabai di Kaltim berkisar 20-30 persen lebih mahal daripada harga rata-rata nasional," ungkapnya.
Dari sisi pedagang eceran, kenaikan harga Cabai turut dirasakan sampai di Kutai Kartanegara. Dalam dua hari terakhir, Sri Endang Mulatsih salah satu pedagang sayur di Tenggarong, Kutai Kartanegara mengaku, jika harga Cabai terapresiasi secara tajam.
“Iya naik, udah dua hari ini harganya Cabai Tiung itu jadi Rp20 ribu perkilo. Kalau sebelumnya masih di kisaran Rp15 dan Rp18 ribu perkilo-nya,” katanya kepada Korankaltim.com, Jumat (4/9/2020).
Sri menyebut, kondisi ini disebabkan karena distribusi pasokan Cabai dari luar Kalimantan yang terlambat datang. Hal ini pun biasa terjadi seperti sebelumnya dan ia pun berharap agar kondisi ini tidak berlangsung lama.
“Biasanya tidak sampai seminggu kondisi ini, ya mudahan saja ya. Infonya yang kami dan biasa seperti kejadian sebelumnya itu naiknya harga cabai ini disebabkan kapal pengangkut nya yang belum bersandar di pelabuhan Samarinda,” ungkapnya.
Di Kota Bontang, pemilik warung makan terpaksa memangkas keuntungan demi tak menaikkan harga jual makanan, yang mengandalkan Cabai sebagai bahan utama.
Ali Munas dan Asniwati, suami istri pemilik Rumah Makan Padang Bungo Minang, yang terletak di Jalan Mayor Jenderal DI Panjaitan Kota Bontang, bahkan menyebut kenaikan harga seperti ini sudah menjadi hal yang lazim. Ia yang sudah puluhan tahun berjualan masakan khas Padang, dengan menu yang melibatkan banyak Cabai seperti sudah siap, menanggung rugi, ketika harga-harga bergerak naik.
"Penjualan tetap saja. Harga kami tidak naikkan . Walaupun harga bahan-bahan di pasar naik. Karena khawatir juga, kasihan pembeli pasti keberatan kalau harga naik. Kami tidak naikkan harga, ya dengan resiko untungnya makin sedikit. Atau bahkan rugi," ujarnya kepada Korankaltim.com, Jumat petang.

Diakui pria berusia 60 tahun itu, di tengah kondisi sulit dibawah bayang-bayang Covid-19, dampak kenaikan harga Cabai, menjadi berlipat-lipat. "Kurangnya pasti banyak penurunannya. Apalagi karena Corona, kan berkurang orang beli makanan di luar. Sudah susah makin susah," ungkapnya.
Di tingkat konsumen, Nursalina, salah satu ibu rumah tangga di Kutai Kartanegara mengaku belum begitu kaget dengan kenaikan harga Cabai. Menurutnya, bagi ibu rumah tangga yang dikonsumsi untuk pribadi, kenaikan ini tidak begitu meresahkan, berbeda halnya bagi pedagang kuliner.
“Ya tidak begitu meresahkan, karena belinya tidak berkilo-kilo. Di samping itu, kami di rumah ada tanam Cabai juga. Meskipun demikian, saya berharap harga Cabai bisa stabil tidak melambung tinggi,” tegasnya.
Pengamat Ekonomi Univeritas Mulawarman (Unmul), Aji Sofyan Efendi menuturkan, perkara ini terjadi berulang dengan penyebab yang itu-itu saja. Karenanya, ia mendorong pemerintah daerah agar bisa berfikir cerdas untuk mengambil langkah konkret guna mengatasi permasalahan yang terus terulang tersebut.
“Pemerintah harus cerdas, bisa melihat apa akar masalah dari ini semua. Apakah faktor cuaca, atau tengkulak?” tegasnya pada korankaltim.com.
Ia menjelaskan jika memang kenaikan harga disebabkan oleh keberadaan tangan-tangan nakal para tengkulak, maka akan lebih mudah bagi pemerintah untuk mengambil langkah. Pemerintah bisa ‘membangkrutkan’ tengkulak dengan menyiapkan stok yang mumpuni. Baik produk lokal maupun impor.
“Kalau tengkulak main di produk lokal, kita operasi pasar dengan produk impor. Begitu juga sebaliknya,” sambungnya.
Fakta bahwa hingga kini, Kaltim belum sanggup memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, menjadi ironi. Lantaran, tak lama lagi ketika pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari DKI Jakarta ke Kaltim terealisasi, maka Kaltim harus menanggung beban uang lebih berat, karena akan terjadi penambahan penduduk. Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah harus lekas bahu membahu antar instansi untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok di daerah calon IKN ini.
“Instansi pemerintah daerah bisa berkoordinasi dengan Bulog. Operasi pasar, stabilkan harga,” pungkasnya.
Tim Penulis :
1. Permata S Rahayu (Samarinda)
2. Muhammad Heriansyah (Kutai Kartanegara)
3. Romi Ali Darmawan (Bontang)
Editor : Rusdianto