Mengacu data Reuters Digital News Report (DNR) 2020, Kristanto memaparkan dari 80 ribu responden di 40 negara yang disurvei pada Januari-Februari dan April 2020 tingkat kepercayaan terhadap berita media mainstream merosot ke angka 42 persen. 56 persennya lagi, tidak mampu membedakan antara fakta dan hoax di internet.
Mereka kebanyakan mencari “fakta alternatif”dari media sosial dan berbagai platform yang potensial menyesatkan ataupun tak akurat. misalnya saja, terkait teori konspirasi tentang Covid-19 dan lainnya.
Data Reuters itu juga menunjukan ada kenaikan konsumsi media di 6 benua, khususnya televisi dan berita online. Hal itu mengingat penerapan sosial distancing, yang diiringi aktivitas penggunaan gadget lebih intens. Saat ini, satu-satunya media berbasis internet yang tidak terlalu 'tercekik' hanyalah media televisi.
"Maka alternatif yang harus dikembangkan oleh para pemilik media adalah going full digital (digitalisasi penuh) manfaatkan kembali email, podcast, dan lain-lain," kata mantan Pimpinan Redaksi Sinar Harapan itu.
Media dapat mengubah model bisnisnya dengan meningkatkan langganan versi online. Ada dua jenis sistem berlangganan yang dipaparkan Kristanto, yakni 'Hard Paywall' yang mengedepankan konten bernilai tambah, pasar unik dan dominan.
Kemudian ada 'Soft Paywall', ada versi trial atau percobaan dengan akses dan konten terbatas sebelum pembaca tertarik berlangganan dan mendapat akses penuh. "Orang berlangganan karena kontennya bagus, faktor yang mendorong orang mau membayar konten media itu karena konten berkualitas, ada kenyamanan, merasa indepen, menyumbangkan nilai kepada masyarakat atau merawat demokrasi," jelas Kristanto.
Selain itu Google telah melakukan pembicaraan dengan para penerbit di Australia, Brasil dan Jerman. Google akan membayar konten dengan kuakitas tinggi yang ada di Google News yang rencananya diluncurkan akhi tahun ini. "Ini merupakan tanggapan atas kesulitan yang dialami banyak penerbit akibat pandemi Covid-19," tutupnya. (*)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur