"Kondisi RSI saat ini sangat memprihatinkan, perlu uluran tangan pemerintah melalui dana APBD," kata Tio, sapaan akrab Nindya Listiyono kepada Korankaltim.com, Minggu (26/6/2022).
Tio sudah melihat langsung kondisi RSI saat memenuhi panggilan masyarakat yang sedang melakukan kerja bakti untuk pembenahan infrastruktur di tempat tersebt Sabtu (25/6/2022) kemarin.
RSI yang beberapa tahun lalu jadi pilihan masyarakat terutama mereka yang bermukim di Samarinda Ilir karena fasilitas dan infrastruktur yang memadai saat ini kondisinya berbanding terbalik, terkesan tak terurus dengan fasilitas yang minim.
"Makanya ini perlu perhatian bersama untuk mengembalikan RSI bisa seperti dulu lagi," tegas Tio.
Khusus kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki kewajiban CSR sudah seharusnya menyalurkan untuk pembenahan RSI tersebut.
"Harapannya RSI ini dapat beroperasi dengan normal dan maksimal seperti dulu lagi," harap Ketua Komisi II DPRD Kaltim ini.
Sementara Ketua Pengurus Yayasan RS Islam (YARSI) Rita Barito mengaku sejak ditutup tahun 2016 lalu, cukup jauh perbandingan tenaga kesehatan (nakes) yang ada saat ini.
Dulu nakes melebihi 400 orang, sementara saat ini hanya berkisar 115 orang saja, itupun dengan usia yang sudah tidak muda lagi.
"Sebenarnya kami ingin merekrut orang baru, sesuaikan standar yang ada untuk nakes RS," kata Rita.
Kalau RSI Samarinda dapat beroperasi seperti dulu tentu nantinya akan dikembangkan secara maksimal, mengoptimalkan poliklinik, apotek, guest house, klinik kecantikan yang bisa jadi satu-satunya di Kaltim.
"Kami berupaya dalam waktu tiga bulan bisa beroperasi secara optimal," harap Rita.
Untuk diketahui, RSI Samarinda berhenti beroperasi pada 2016 lalu, berawal dari penarikan aset yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kaltim saat itu, H Awang Faroek Ishak, tentang Pencabutan Hak Pinjam Pakai Gedung bekas rumah sakit umum. Baru tahun 2021 lalu RSI Samarinda kembali beroperasi. (Adv)
Penulis : Faishal Ays
Editor: Aspian Nur