Selain itu pandemi ini, secara tegas memaksa untuk merenungkan kembali kompatibilitas norma dan tatanan yang selama ini berlangsung, dan bahkan melakukan pendefinisian kembali sesuai dengan kebutuhan dan tantangan untuk bertahan hidup menghadapi pandemi.
Perubahan yang berlangsung dan yang mengarah ke new normal ini merupakan implikasi dari pengaturan selama masa tanggap darurat Covid-19, seperti diberlakukannya PSBB maupun PPKM. “Sebagaimana kita alami hari ini, isolasi level komunitas, social distancing, mekanisme work from home, distance learning, efisiensi, refocusing sumber daya, serta penyesuaian lainnya yang kemudian menjadi kebiasaan baru,” sebutnya.
Masih mengenai pandemi, situasi ini telah menghadirkan perubahan dalam konteks tata politik, dimana pandemi bisa melahirkan ketidakstabilan politik sebagai akibat gelombang ketidakpuasan sosial dan ekonomi yang meluas. Salah satu perkembangan menarik yang bisa diamati dibanyak tempat adalah situasi pandemi justru menjadi pintu masuk bagi konsolidasi kekuasaan di luar jalur demokrasi dan penundaan atau penyesuaian mekanisme demokrasi elektoral.
Dengan alasan pencegahan virus, pandemi ini juga menjadi pintu masuk penguatan pengawasan dan kontrol terhadap warga negara dengan mekanisme tracing dan perekaman pergerakan individu. Covid-19 telah melahirkan Coronopticon (suatu istilah yang sedang dipopulerkan di media masa belakangan ini) yaitu suatu mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh negara secara ketat terhadap individu dengan menggunakan teknologi informasi.
Sementara pendefinisian new normal yang dipopulerkan oleh WHO dan kemudian dikuti oleh pemimpin politik dan pemerintahan sejatinya telah mengalami pendangkalan makna, karena disederhanakan hanya sebagai adaptasi protokol perilaku baru, baik ditingkat individu maupun organisasi untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19.
“Padahal secara epistemologis, new normal adalah sinyal perubahan yang bersifat fundamental. Motif yang melatarbelakangi adopsi new normal juga sangat pragmatis, yaitu membuka kembali ekonomi dan normalisasi kehidupan dengan perilaku baru kesehatan,” urai Makmur. (adv/*3)
Editor : Bambang Irawan